Perkuat Kohesi Sosial Fak-Fak Timur, Tim 16 Patriot Unhas. Gandeng Masyarakat Rumuskan Aksi Ekonomi Bersama

pembangunan kawasan transmigrasi, kohesi sosial masyarakat papua, ekosistem ekonomi desa, pendampingan ekonomi kolaboratif, tim ekspedisi patriot 2026, universitas hasanuddin fakfak, pemberdayaan ekonomi kampung saharey, distrik fakfak timur papua barat, hilirisasi komoditas lokal papua, pengembangan bumkam dan koperasi, potensi pala tomandin fakfak, tantangan petani cabai papua, rantai niaga pertanian daerah, inovasi produk olahan lokal, kementerian transmigrasi indonesia

NETSULSEL | FakFak, Balai Pertemuan Kampung Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, menjadi saksi digelarnya Focus Group Discussion (FGD) Ke-1 bertajuk “Penguatan Kohesi Sosial Masyarakat Lokal dan Masyarakat Nusantara Melalui Pendampingan Ekonomi Kolaboratif di Kawasan Transmigrasi Weri-Saharey” pada Selasa (18/8/2026). Kegiatan ini diprakarsai oleh Tim 16 Universitas Hasanuddin di bawah pimpinan Dr. Sawedi Muhammad, M.Sc., sebagai bagian dari implementasi program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Kementerian Transmigrasi RI.

​Membuka jalannya diskusi, Kepala Distrik Fakfak Timur, Gani Samai, menegaskan pentingnya keterbukaan masyarakat untuk menerima perubahan demi kemajuan kawasan. “Kalau kita mau maju, kita harus terbuka dan menerima perubahan dari luar agar program pusat seperti BUMDes bisa hidup, serta tidak sekadar bergantung pada pasar kota Fakfak yang jauh,” ujar Gani Samai menegaskan pentingnya jiwa wirausaha mandiri di tingkat kampung.

​Menanggapi hal tersebut, Narasumber Ahli dari Universitas Hasanuddin, Hariashari Rahim, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya kolaborasi sosial-ekonomi dan hilirisasi komoditas lokal agar masyarakat tidak terus-menerus menjual bahan mentah dengan harga murah. “Transmigrasi hari ini adalah soal pembangunan kohesi sosial dan kolaborasi ekonomi yang berkelanjutan, di mana kuncinya ada pada kepercayaan sosial serta rasa kepemilikan bersama antar-warga,” jelas Hariashari.

​Dalam sesi interaktif yang berlangsung hangat, para tokoh masyarakat menyampaikan berbagai kendala nyata di lapangan, mulai dari rantai niaga pala yang timpang hingga masalah infrastruktur. Sekretaris Kampung Saharey, Abas Tunggin, turut membeberkan ketergantungan petani pada tengkulak. “Hasil panen pala seolah tertutup di Fakfak, petani hanya dapat harga standar di pohon sementara pembeli luar menetapkan harga tinggi; kami ingin petani bisa bermitra langsung dengan BUMKam atau pembeli besar di luar daerah,” keluh Abas.

​Selain rantai niaga pala, keluhan juga datang dari sektor pertanian akibat keterbatasan sarana dan sulitnya akses transportasi. Ketua Kelompok Tani Merakusa/Rabusa, Ahit Samai, menyampaikan kepasrahannya atas kendala yang kerap merugikan petani cabai. “Anjloknya harga cabai di pasar kota sering kali tidak menutup biaya bahan bakar transportasi laut menuju Fakfak,” ungkap Ahit Samai mengenai tingginya operasional distribusi.

​Merespons berbagai curahan hati warga, tim ahli dan pendamping merumuskan langkah strategis seperti pembentukan regulasi kampung, standardisasi SOP BUMKam, hingga inovasi olahan produk turunan bernilai tambah. Langkah ini diharapkan mampu memutus ketergantungan masyarakat pada penjualan bahan mentah dan mengatasi masalah ketimpangan harga pasar.

​Sebagai penutup, Koordinator TEP Tim 16, Nur Vidiah Rachmadani, menegaskan komitmennya untuk mengawal seluruh aspirasi warga hingga menjadi aksi nyata. “Hasil FGD ini menjadi basis kami untuk berkoordinasi langsung dengan dinas terkait di Fakfak agar ruang diskusi ini melahirkan aksi konkret yang ditindaklanjuti pada FGD berikutnya,” pungkas Nur Vidiah sebelum diskusi diakhiri dengan doa bersama. (arhy)