Si Jago Merah Mengamuk di Toraja: Kebakaran Hutan Merembes hingga ke Kompleks Makam Tebing Bersejarah

potongan video yang discreen shoot lalu dipertajam AI

​NETSULSEL | ​Tanatoraja,  Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan pegunungan di wilayah Toraja (26/10/26) kian mengkhawatirkan. Tak hanya menghanguskan vegetasi dan pepohonan kering akibat musim kemarau, amukan si jago merah dilaporkan merembes hingga ke dinding tebing cadas yang menjadi lokasi kompleks makam tradisional leluhur atau yang dikenal warga setempat sebagai liang batu.

​Peristiwa dramatis ini sontak memicu kepanikan warga sekitar dan para tokoh adat. Pasalnya, api yang membakar semak belukar di lereng gunung bergerak cepat terbawa angin, mendekati celah-celah tebing batu tempat peti mati kuno (erong) dan patung leluhur (tau-tau) disemayamkan.

​Medan Ekstrem dan Perjuangan Petugas Memadamkan Api
​Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tana Toraja, yang dibantu oleh warga setempat, langsung berjibaku ke lokasi kejadian. Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala besar akibat medan yang terjal dan ekstrem.

​Dinding cadas yang curam membuat mobil pemadaman tidak dapat menjangkau titik api di atas lereng. Petugas terpaksa menggunakan peralatan portabel dan metode manual untuk melokalisir api agar tidak membakar struktur kayu pada makam-makam kuno tersebut.

​”Kendala utama kami adalah akses jalan menuju tebing yang sangat terjal serta hembusan angin kencang di atas gunung yang membuat api cepat merambat ke vegetasi di sekitar tebing cadas,” ungkap salah seorang petugas lapangan BPBD Toraja.

​Menyelamatkan Warisan Leluhur dan Nilai Sakral
​Bagi masyarakat Toraja, kompleks makam tebing bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan bagian dari sejarah, identitas budaya, dan situs sakral yang dilindungi. Warga bersama pemuka adat tampak bergegas membuat sekat bakar darurat di sekitar kaki tebing untuk mencegah lidah api menjilat langsung dinding batu bersejarah tersebut.

​Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus berupaya melakukan pendinginan di beberapa titik api sisa. Berkat kesigapan warga dan petugas, sebagian besar area makam berhasil diselamatkan dari kerusakan parah, meski sejumlah vegetasi di sekitar tebing tampak hangus menjadi arang.

​Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan tinggi terhadap potensi karhutla di tengah cuaca panas ekstrem, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu percikan api di kawasan hutan dan lereng pegunungan Toraja. (ita)