NETSULSEL | Makassar, Dalam dinamika organisasi sebesar Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan, kepemimpinan tak cukup hanya mengandalkan popularitas. Ia membutuhkan kematangan karakter, jejaring yang solid, serta rekam jejak nyata yang dirasakan langsung oleh para anggotanya. Di tengah riuk musyawarah daerah (Musda) REI Sulsel, sosok H. Badris Salam (HBS) muncul sebagai figur sentral yang dinilai memenuhi seluruh kriteria tersebut bahkan tanpa tanding.
Sikapnya yang low profile, mudah diakses, namun selalu tuntas dalam mengeksekusi setiap tanggung jawab menjadi alasan utama mengapa namanya menggema kuat di kalangan pengembang. Keunggulan karakter ini disampaikan langsung oleh para tokoh senior, salah satunya Ketua Dewan Pembina JK Owners, H. Anzari Muin.
”Saya sudah lama kenal Pak Haji Badris. Beliau adalah orang yang sangat low profile, sangat care dengan semua orang, dan punya perhatian tinggi tidak hanya di REI tetapi juga di organisasi lain,” ungkap Anzar.
Sebagai pimpinan di JK Owners, HBS terbukti kerap menyelesaikan berbagai urusan teknis maupun strategis secara mandiri dan efektif sebelum akhirnya melaporkan hasil kerja yang memuaskan. Karakter eksekutor inilah yang dinilai sangat dibutuhkan oleh REI Sulsel untuk mengawal iklim industri perumahan dan properti ke depan.
Pengalaman Matang dan Komunikasi Lintas Sektor
Kelayakan HBS memimpin DPD REI Sulsel bukan sekadar klaim sepihak. Selain penguasaan peta industri properti dari hulu ke hilir, beliau dikenal memiliki modal sosial dan jejaring nasional yang sangat kuat. Hubungan komunikasinya yang harmonis dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk jajaran Kementerian Perumahan dan pemerintah daerah, menjadi nilai tambah yang sulit ditandingi calon lain.
Senioritas dan pengalaman panjang HBS memberikan kepastian arah bagi para pelaku usaha properti di Sulawesi Selatan. Bagi para senior REI, kehadiran HBS bukan untuk menciptakan jarak, melainkan merangkul seluruh elemen baik pengembang senior maupun pengembang muda dalam satu visi kolaboratif.
”Beliau sangat profesional dan mengetahui persoalan REI dari A sampai Z. Keterampilannya mumpuni dan pengalamannya sudah teruji. Kami optimistis, di bawah kepemimpinan beliau, semua persoalan pembangunan perumahan di Sulsel bisa diselesaikan dengan baik tanpa merepotkan anggota,” tambah Anzari.
Aklamasi Sebagai Simbol Persatuan
Dominasi dukungan terhadap HBS terlihat nyata dari solidnya basis pemilih (voters). Dari total sekitar 370 pemegang hak suara (founders/voters) di REI Sulsel, tim pemenangan HBS telah mengantongi lebih dari 250 dukungan resmi yang diperkirakan terus bertambah hingga mendekati 270 suara.
Kondisi ini membuat posisi HBS kian kokoh. Wajar jika pada akhirnya konstelasi mengarah pada calon tunggal dan mendorong opsi aklamasi. Langkah aklamasi ini dinilai bukan untuk membatasi demokrasi, melainkan sebagai bentuk kedewasaan berorganisasi demi menjaga soliditas dan mencegah perpecahan internal.
Dengan modal leadership yang teruji, jejaring yang luas, serta dukungan mayoritas mutlak dari para anggota, H. Badris Salam membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar kandidat, melainkan figur pemersatu yang siap membawa DPD REI Sulsel melangkah lebih jauh dan lebih kuat.

















