NETSULSEL | Makassar, Ekspektasi publik dan para pelaku industri properti untuk menyaksikan duel gagasan serta pertarungan sengit di panggung Musyawarah Daerah (Musda) XV DPD REI Sulsel 2026 harus berakhir mengecewakan. Ajang yang digadang-gadang bakal menjadi panggung kontestasi terpanas tahun ini justru menyajikan klimaks yang antiklimaks.
Hingga batas akhir penjaringan pendaftaran calon ketua dan voters resmi ditutup Panitia Musda pada Rabu sore (30/9/2026) pukul 16.00 WITA, panggung pertarungan mendadak sepi. Dari dua figur yang sebelumnya santer meramaikan bursa, hanya H. Badris Salam (HBS) yang berani melangkah mantap menyetorkan kembali formulir pendaftaran beserta seluruh kelengkapan dokumen administrasinya.
Sementara itu, Rezza Pratama Said, tokoh muda yang selama ini begitu getol berkampanye dan diproyeksikan menjadi “lawan tanding tangguh” bagi HBS, juara bertahan narasi perubahan justru tak menampakkan batang hidungnya hingga detik-detik batas waktu berakhir.
Keputusan Rezza untuk menyusutkan langkah dan melempar handuk sebelum peluit pertandingan dibunyikan menyisakan rasa kecewa mendalam bagi publik organisasi. Padahal, dinamika awal yang dibangun kelompok muda REI Sulsel telah memantik antusiasme tinggi. Publik menantikan adu mekanis dan adu visi strategis antara representasi figur senior berpengalaman melawan keberanian figur muda.
Sikap mundur yang mendadak ini memicu gelombang pertanyaan di lingkaran internal anggota. Ke mana perginya narasi keberanian dan perlawanan yang selama ini dihembuskan Rezza? Mengapa pertarungan gagasan yang dijanjikan justru menguap begitu saja sebelum masuk ke arena gelanggang?
Keputusan Rezza yang berdalih patuh pada nasehat tiga senior REI seketika mengubah tensi panas Musda menjadi panggung datar. Janji pertarungan sengit yang sempat dinanti-nanti kini resmi melayang, hanya menyisakan cerita di balik meja kompromi dan jalan mulus tanpa hambatan bagi H. Badris Salam menuju kursi kepemimpinan DPD REI Sulsel.
Rezza membatalkan maju sebagai calon Ketua, disampaikan melalui surat pernyataan pengunduran diri ke group whatsapp REI Sulsel, sebuah wadah para pengembang sesulawesi selatan yang juga adalah voters dalam musda tersebut. Berikut pernyataan Rezza:
“PERNYATAAN SIKAP”
Rezza Pratama Said, S.T.
Makassar, 30 September 2026
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Yang saya hormati para senior, pengurus, dan seluruh anggota keluarga
besar REI Sulawesi Selatan. Juga sahabat-sahabat yang selama ini
berjalan bersama saya.
Hari ini saya ingin menyampaikan satu keputusan penting.
Beberapa waktu terakhir, saya menerima masukan dan permintaan dari
tiga Ketua Kehormatan DPD REI Sulsel. Mereka adalah Bapak H. Andi
Idris Manggabarani, Bapak Ir. H. M. Arief Mone, M.T., dan Bapak Ir.
Raymond Ardan Arfandy. Beliau-beliau mengingatkan kita semua tentang
pentingnya menjaga suasana organisasi tetap kondusif. Kita juga diminta
menghindari dinamika yang bisa mengganggu persatuan keluarga besar
REI Sulsel.
Setelah mendengar masukan itu dan menimbangnya dengan sungguh-sungguh,
saya memutuskan untuk tidak melanjutkan kontestasi sebagai
calon Ketua DPD REI Sulsel periode 2026–2029.
Keputusan ini saya ambil dengan kesadaran penuh. Bagi saya, REI bukan
sekadar tempat berkompetisi untuk mendapatkan posisi. REI adalah
rumah bersama. Rumah ini dibangun oleh para senior dan seluruh
anggota dengan perjuangan yang panjang.
Kontestasi pada akhirnya akan selesai. Tetapi organisasi ini akan terus
berjalan, dan tantangan yang menunggu di depan jauh lebih besar. Saya
tidak ingin sebuah kontestasi membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh
lebih berharga, yaitu persaudaraan dan kebersamaan kita di REI Sulsel.
Saya ingin menegaskan satu hal. Saya tidak melanjutkan langkah dalam
kontestasi ini, tetapi komitmen saya kepada REI tidak berhenti. Sejak
awal, langkah ini saya niatkan untuk mewujudkan REI Sulsel yang solid,
progresif, dan berdaya. REI Sulsel yang terus tumbuh, memberi manfaat
bagi seluruh anggotanya, dan menjadi penggerak industri properti di
kawasan timur Indonesia. Gagasan itu tetap saya pegang.
Kepada seluruh anggota, senior, pengurus, dan sahabat yang telah
memberikan kepercayaan dan dukungan, saya mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya. Dukungan bapak dan ibu sangat berarti bagi
saya.
Saya juga meminta kepada sahabat-sahabat yang selama ini bersama
saya untuk menerima keputusan ini dengan kepala tegak. Jangan jadikan
keputusan ini alasan untuk terpecah. Justru sekarang waktunya kita
menunjukkan bahwa kita bisa menempatkan kepentingan organisasi di
atas kepentingan kita masing-masing.
Dunia usaha properti hari ini menghadapi tantangan yang semakin
kompleks. Jangan sampai energi kita habis untuk bersaing satu sama lain.
Energi terbesar kita harus dipakai untuk membangun industri properti
Sulawesi Selatan, dan untuk memperkuat posisi REI sebagai mitra
strategis pemerintah.
Saya menyampaikan penghormatan kepada Bapak H. Badris Salam
sebagai sesama kandidat dalam proses ini. Saya berharap beliau, yang
nantinya mendapat amanah, dapat membawa REI Sulsel menjadi
organisasi yang semakin kuat dan mampu merangkul seluruh elemen.
Tidak ada yang benar-benar menang atau kalah ketika yang kita
perjuangkan adalah organisasi. Yang harus menang adalah REI Sulsel.
Saya menerima keputusan ini dengan lapang hati. Jabatan adalah
amanah yang datang dan pergi, sedangkan pengabdian kepada organisasi
dapat dilakukan dari posisi mana pun. Saya akan tetap menjadi bagian
dari keluarga besar REI dan terus berkontribusi sesuai kemampuan saya.
Terima kasih kepada semua yang telah berjalan bersama saya.
Perjuangan untuk REI yang lebih solid, progresif, dan berdaya tidak
berhenti hari ini. Kita hanya mengambil jalan yang berbeda untuk menjaga
rumah yang sama.
REI adalah rumah kita bersama.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

















