NETSULSEL | Makassar, Di tengah dinamika pengelolaan sumber daya laut yang semakin kompleks, Unhas bersama Shanghai Ocean University (SHOU) dan Guangdong Ocean University (GDOU) menegaskan arah kolaborasi yang lebih konkret, membangun ekosistem inovasi berbasis sains yang berdampak langsung pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Pertemuan tiga institusi ini merupakan implementasi diplomasi akademik. Juga ruang konsolidasi untuk menyatukan keunggulan masing-masing. Unhas dengan kekuatan riset tropis dan ekosistem pesisir Indonesia, SHOU dengan pengalaman teknologi kelautan, serta GDOU dengan kapasitas pengembangan perikanan modern, membentuk fondasi kerja sama yang saling melengkapi.
Agenda kolaborasi yang dibangun mencakup pengembangan program pertukaran mahasiswa, penjajakan _double degree_, hingga perluasan riset bersama yang terintegrasi. Ketiga institusi juga menyusun peta jalan kolaborasi hingga tahun 2028 sebagai panduan strategis untuk memastikan keberlanjutan program.
Di sisi lain, pendekatan yang diusung tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah. Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, menekankan pentingnya menghadirkan luaran yang nyata bagi masyarakat. Kolaborasi ini diposisikan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan ilmu pengetahuan yang mampu menghasilkan solusi konkret, khususnya dalam pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.
Perspektif serupa juga disampaikan oleh Vice President Shanghai Ocean University, Prof. Weijie Ni. Ia melihat Unhas sebagai mitra strategis di kawasan Asia, dengan potensi besar dalam memperkuat riset bersama sekaligus membuka peluang mobilitas akademik yang lebih luas. Sinergi ini diyakini akan melahirkan inovasi teknologi kelautan yang tidak hanya relevan secara regional, tetapi juga berkontribusi pada isu global.
Salah satu fokus utama kolaborasi adalah pengembangan konsep _marine ranching_ berbasis sains. Program ini dipadukan dengan agenda nasional seperti Kampung Nelayan Merah Putih, sehingga menghasilkan pendekatan yang akademis dan juga aplikatif. Integrasi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas perikanan, memperkuat pemberdayaan masyarakat pesisir, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kelautan.
Momentum penting dalam kerja sama ini ditandai melalui pelaksanaan _Unveiling Ceremony for the Establishment of a Stock-Enhancement-Oriented Marine Ranch_. Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi simbol dimulainya fase implementasi kolaborasi berbasis riset dan inovasi teknologi untuk penguatan stok sumber daya perikanan.
Melalui platform _marine ranching_, ketiga universitas mengintegrasikan berbagai pilar tridarma—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dalam satu ekosistem kolaboratif. Model ini diharapkan menjadi contoh pengembangan kawasan pesisir berbasis ilmu pengetahuan yang adaptif dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan kolaborasi juga diperkuat melalui kunjungan lapangan ke Kepulauan Spermonde. Delegasi meninjau langsung implementasi artificial reef di Pulau Bonetambung, pengembangan budidaya ikan komersial di Pulau Barrang Caddi, serta fasilitas hatchery di Pulau Barrang Lompo yang menjadi pusat program stock enhancement FIKP Unhas. Kegiatan ini memberikan gambaran nyata bagaimana riset dapat dihubungkan langsung dengan kebutuhan lapangan.
Keseluruhan inisiatif ini semakin mempertegas posisi Universitas Hasanuddin sebagai salah satu pusat unggulan riset kelautan di Indonesia yang aktif membangun jejaring global. Kolaborasi dengan SHOU dan GDOU tidak hanya memperluas horizon akademik, tetapi juga menghadirkan model kerja sama internasional yang berorientasi pada solusi.
Pertemuan antara delegasi Shanghai Ocean University, Guangdong Ocean University, dan pimpinan Universitas Hasanuddin berlangsung di Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, pada Selasa (23/6). (ist)
















