
NETSULSEL | Gowa, Kabupaten Gowa kembali diuji dalam merawat tenun kebersamaan dan nilai luhur kebudayaan di tengah memanasnya suhu politik. Menyikapi bergulirnya hak angket DPRD Gowa terhadap Bupati Gowa, Wakil Sekretaris DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Selatan, Jabal Nur, melayangkan seruan sejuk agar seluruh elemen masyarakat tetap tenang dan mengedepankan sifat Siri’ na Pacce (menjaga kehormatan dan persaudaraan).
Menurut Jabal, hak angket sejatinya adalah instrumen politik biasa yang memiliki koridor dan mekanisme konstitusional yang jelas, sehingga tidak perlu direspons dengan kegaduhan yang dapat merusak tatanan sosial masyarakat.
Politik dalam Koridor Hukum, Bukan Tekanan Massa
Jabal meminta masyarakat untuk memberikan ruang yang tenang bagi Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Gowa dalam menjalankan tugasnya. Ia mengingatkan bahwa jika nantinya ditemukan indikasi yang mengarah pada pelanggaran hukum, biarkan Aparat Penegak Hukum (APH) yang menyelesaikannya secara profesional.
”Semua proses hak angket di Gowa adalah proses politik dan pasti akan ada ujungnya. Semua akan dipastikan berada dalam koridor yang benar. Kalau dalam proses politik ada yang perlu dibawa ke ranah hukum, biarkan aparat penegak hukum bekerja. Masyarakat tidak perlu saling mengerahkan massa untuk berdemonstrasi,” ujar Jabal penuh penekanan.
Merawat Kedewasaan Demokrasi dan Kebersamaan
Dalam perspektif politik yang sehat, Jabal juga menyayangkan adanya gerakan-gerakan dari kelompok tertentu yang dinilai terlalu berambisi memaksakan pergantian kepemimpinan di luar jalur konstitusi. Tindakan seperti membentangkan spanduk penolakan saat Bupati melakukan kunjungan kerja dinilai mencederai nilai kesopanan (Pangngadakkang) yang dijunjung tinggi di Tanah Gowa.
Jabal mengimbau agar semua pihak bersabar dan menahan ego politik demi menjaga stabilitas dan kedamaian wilayah.
Hormati Proses, Menunggu hasil akhir pansus tanpa melakukan provokasi.
Hindari Polarisasi, Tidak terjebak dalam gerakan “kudeta di tengah jalan” yang berpotensi memecah belah warga.
Utamakan Dialog, Mengembalikan marwah Gowa sebagai daerah yang menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan kebijaksanaan.
Menepis Benalu Politik
Di sisi lain, Jabal juga menyoroti adanya dinamika personal yang kerap memperkeruh suasana, salah satunya terkait sosok Muhammad Basri alias Basri Kajang. Jabal menduga tindakan yang bersangkutan selama ini hanyalah manuver pribadi yang memanfaatkan momentum politik demi keuntungan sendiri.
”Dugaan saya, apa yang dilakukan Basri Kajang selama ini hanya menjual-jual nama Bupati Gowa untuk kepentingan pribadinya,” ungkap Jabal.
Pada akhirnya, riuh politik di Gowa diharapkan tidak sampai menggerus nilai kebersamaan. Menjaga ketertiban dan menghormati proses yang sedang berjalan adalah cerminan dari masyarakat yang berbudaya tinggi. (ita)













