
NETSULSEL | Makassar, Di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata memukul wilayah pesisir, sebuah pijar harapan dan kolaborasi lintas negara menyala dari Ballroom Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa (21/7). Melalui perhelatan Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Annual Meeting 2026, sepuluh universitas terkemuka dari Indonesia dan Australia merapatkan barisan bersama sembilan perguruan tinggi se-Sulawesi. Forum internasional ini menjadi panggung dedikasi untuk mengubah lembaran riset ilmiah menjadi solusi hidup yang menyelamatkan pesisir Indonesia Timur.
Dirjen Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Dr. Fauzan Adziman, menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan sebuah penelitian kini tak lagi sebatas tumpukan publikasi jurnal, melainkan seberapa besar manfaat nyata yang dirasakan oleh warga. “Inilah yang kami maksud sebagai impact, yang tidak hanya berarti memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi rujukan dan memberikan manfaat bagi pemerintah dalam proses pengambilan kebijakan,” tegas Fauzan penuh optimisme. Melalui pendekatan berbasis bukti, riset dihadirkan untuk menembus batas ruang akademik menuju aksi nyata di lapangan.
Kemitraan ini bukan sekadar perjumpaan gagasan, melainkan jembatan keadilan sosial bagi kelompok rentan yang paling terdampak krisis iklim. Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menyoroti pentingnya keberpihakan riset pada masyarakat pesisir yang berada di garis depan pertempuran melawan abrasi dan kenaikan muka air laut. “Sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, kami berharap setiap riset benar-benar menghadirkan manfaat yang bermakna bagi masyarakat,” ujar Prof. JJ dengan mantap, menegaskan bahwa sains harus hadir menjadi benteng perlindungan mata pencaharian dan masa depan warga pesisir.
Keberhasilan konsorsium PAIR di Sulawesi kini menjadi batu pijakan penting untuk memperluas jangkauan kebaikan ke kawasan yang lebih luas. Kemdiktisaintek mendorong agar model kolaborasi ini menjadi makin inklusif, merangkul pembangunan di Maluku hingga Papua, serta memperkuat jejaring internasional melalui International Research Partnership Program. Dengan menyatukan kekuatan peneliti, pemerintah, dan pelaku industri, riset Indonesia Timur membuktikan kemampuannya untuk tampil dan diakui di panggung sains global.
Melalui sinergi tanpa batas yang digerakkan dari jantung Makassar ini, sains kembali pada hakikat terindahnya: melayani kemanusiaan. Perhelatan PAIR Summit 2026 di Unhas mempertegas pesan bahwa ketika peneliti lintas negara bersatu dengan pemahaman konteks lokal yang kuat, perubahan iklim bukan lagi ancaman yang menakutkan, melainkan panggilan untuk melahirkan inovasi yang membawa harapan dan kesejahteraan nyata bagi masyarakat pesisir. (ist)









