
NETSULSEL | Bulukumba, Sebuah manuver gelap nan provokatif mengguncang perhatian masyarakat Kabupaten Bulukumba. Di tengah riuk-piuk konsolidasi publik, jagat maya dan grup-grup percakapan mendadak dihebohkan oleh sebaran pamflet digital bertajuk “Domino Beramal Cup 1”. Tak tanggung-tanggung, ajang yang dikemas berbalut narasi kepedulian itu mengiming-imingi hadiah fantastis senilai setengah miliar rupiah. Sebuah angka fantastis yang sengaja dirancang untuk memikat daya pikat massa secara masif.
Namun, di balik tabir janji manis Rp500 juta tersebut, terendus aroma manipulasi politik dan intrik penipuan sistematis. Pemerintah Kabupaten Bulukumba bergerak cepat membongkar skenario remang-remang ini. Fakta mengejutkan pun terkuak, ajang yang mengatasnamakan gerakan “Beramal” itu ternyata fiktif dan sama sekali tidak memiliki basis legalitas, alias murni modus kejahatan siber yang memanfaatkan sensitivitas publik.

Pelaku dengan cerdik mengeksploitasi simbol-simbol kekuasaan untuk membangun persepsi legitimasi. Foto Bupati Bulukumba, H. Andi Muchtar Ali Yusuf, bersanding dengan Wakilnya dipasang mencolok dalam flyer tanpa izin seolah-olah menandakan adanya restu dan dukungan penuh dari Istana Daerah. Pencatutan wajah pimpinan daerah ini disinyalir sebagai strategi manipulasi psikologis agar masyarakat tanpa ragu menyerahkan uang pendaftaran.
Bupati Kabupaten Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf secara tegas menyatakan tak tahu menahu persoalan turnamen domino ini, Ia tak bertanggung jawab segala konten dari pesan flayer yang beredar tersebut
“Saya kaget ketika semua orang bertanya tentang acara domino ini. Tidak pernah ada yang sampaikan ke saya masalah itu,” tulis Andi Utta, sapaan akronim kepala daerah ini, melalui pesan whatssapp. Ia melanjutkan, baik panitia ataupun penyelenggara tak siapapun yang ia kenal.
Katanya, Ia baru tahu namanya dicatut dalam sebuah turnamen pada hari selasa (27/06/26) sore kemarin, melalui sebuah pesan digroup whatsapp yang sudah heboh dibicarakan. Andi Utta lalu mengkonfirmasi ke Sekertaris Daerah Pemkab Bulukumba, Muh.Ali Saleng yang juga mengaku tak tahu menahu terkait hal ini.
Orang nomor satu dikota Panrita Lopi, menegaskan bahwa baik pribadi maupun Pemkab Bulukumba, tidak memiliki hubungan apapun denga kegiatan olah raga ini, apalagi merestui sebuah manuver seperti ini. “ini panitianya sepertinya fiktif, kegiatan yang tidak pernah mengajukan izin penggunaan tempat kegiatan. Apalagi permintaan izin menggunakan foto. Saya sebagai pribadi maupun pemimpin daerah tidak bertanggung jawab,” tegas Andi Ayatullah.
Guna melancarkan aksi kerukan dana instan, “panitia bayangan” ini memasang tarif pendaftaran sebesar Rp250 ribu per pasangan. Ketika otoritas daerah mencoba melacak keberadaan oknum di balik nomor kontak yang tertera pada pamflet, sang “dalang” mendadak bungkam dan memutus akses komunikasi sebuah pola klasik dari operasi penipuan terorganisir yang mengincar keuntungan secara cepat sebelum jejaknya terendus aparat.
Atas indikasi penipuan publik ini, Pemkab Bulukumba mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak terjebak dalam perangkap angka imajiner Rp500 juta. Masyarakat diminta membendung sebaran flyer tersebut dan tidak melakukan transaksi dana apa pun. Kasus ini kini menjadi cermin waspada: bahwa di era digital, narasi “Beramal” pun bisa disulap oleh oknum tak bertanggung jawab menjadi topeng bagi aksi kriminal yang merugikan publik. (ita)










