
NETSULSEL | Makassar, Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah yang krusial. Gelombang bonus demografi dan dinamika ekonomi global menuntut anak muda tidak lagi sekadar menjadi pencari kerja (job seeker), melainkan bangkit sebagai pencipta lapangan kerja (job creator). Semangat membakar inilah yang mengemuka dalam gelaran kuliah umum bertajuk APINDO Goes to Campus di Ruang Senat Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Senin (3/8/2026). Kolaborasi strategis antara Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) ini hadir untuk mentransformasi potensi besar mahasiswa menjadi kekuatan nyata pembuka jalan menuju Indonesia Emas 2045.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan bahwa tantangan era kecerdasan buatan (AI) dan transisi ekonomi hijau (green economy) harus dijawab dengan transformasi pendidikan yang adaptif. Unhas terus memperkuat ekosistem inovasi dan hilirisasi riset kampus agar mampu mencetak talenta unggul yang kreatif, analitis, serta responsif terhadap kebutuhan dunia usaha. Bagi Prof. JJ, menggandeng APINDO merupakan langkah konkret untuk menjembatani kesenjangan antara teori di ruang kuliah dan realitas industri.
“Masifnya perkembangan AI, transisi menuju green economy, dan perang talenta merupakan tiga mega-tren yang sedang membentuk masa depan. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan generasi yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi penggerak inovasi dan kewirausahaan,” ungkap Prof. JJ dalam sambutannya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Ketua Umum APINDO, Shinta Widjaja Kamdani, menekankan pentingnya membekali diri dengan keterampilan masa depan melalui upskilling dan reskilling. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ia mengingatkan para mahasiswa agar tidak gentar, melainkan menjadikan disrupsi sebagai peluang melahirkan usaha baru (startup) serta UMKM yang tangguh dan inovatif.
“Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi oleh kualitas manusianya. Indonesia tidak kekurangan talenta, tetapi membutuhkan ekosistem kolaborasi yang mampu mengubah talenta menjadi entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan kerja,” tegas Shinta membakar semangat para peserta.
Sinergi penting ini turut menjadi pijakan nyata dalam mendukung ketercapaian Sustainable Development Goals (SDGs)—khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Melalui sinergi erat antara akademisi dan pelaku usaha, Unhas dan APINDO membuktikan komitmennya untuk mendampingi generasi muda melangkah berani, mengubah tantangan global menjadi karya yang berdampak luas bagi kemajuan bangsa. (duppa)















