
NETSULSEL | Maros, Langkah kaki para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) mungkin kelak akan selesai di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru. Namun, mereka menolak untuk pergi tanpa meninggalkan manfaat. Di tengah riuk jalanan dan pemukiman warga, sebuah jejak edukasi ditanamkan agar kepedulian lingkungan tetap tumbuh meski masa KKN telah usai.
Melalui kepedulian Muh. Rafli Fitra K., lahirlah sebuah program kerja bernama RADAR (Rambu Aksentuasi Durasi Urai & Area Larangan Sampah). Bukan sekadar plang biasa, papan edukasi ini dipasang di tiga titik strategis yang sering dilalui warga, yakni Lingkungan Kassi Kebo, Lingkungan Betang, dan Lingkungan Masembo.
Setiap warga yang melintas kini tak hanya melihat imbauan larangan membuang sampah sembarangan, tetapi juga disuguhkan dengan fakta menyentuh: rentang waktu panjang yang dibutuhkan alam hanya untuk menguraikan selembar plastik atau sebotol bekas minuman. Lengkap dengan landasan payung hukum Perda Kabupaten Maros No. 6 Tahun 2022, plang ini hadir sebagai pengingat santun namun tegas bahwa bumi butuh dijaga.
”Kami berharap plang ini tidak hanya menjadi penanda atau papan informasi, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” tutur Rafli penuh harap. “Harapannya, setiap orang yang melintas dapat membaca informasi yang tersedia, memahami dampak sampah, serta semakin sadar bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama.”
Semangat muda ini disambut hangat oleh jajaran Pemerintah Kelurahan Baju Bodoa dan para Ketua RW setempat. Dalam penyerahan simbolis yang diiringi penandatanganan berita acara serah terima, tersirat sebuah janji dan komitmen bersama antara mahasiswa, pemerintah, dan warga untuk merawat media edukasi ini secara berkelanjutan.
Lurah Baju Bodoa menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian para mahasiswa yang menghadirkan solusi berjangka panjang bagi lingkungannya.
”Kami menyambut baik program ini karena dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Semoga plang yang telah dipasang dapat dijaga bersama dan memberikan manfaat jangka panjang,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Melalui tiga plang edukasi di Baju Bodoa, terselip pesan sederhana namun mendalam: aksi perubahan iklim tidak selalu harus bermula dari langkah besar dunia, melainkan dari kesadaran individu di sudut-sudut lingkungan tempat kita tinggal.(qas)










