Jejak Kepercayaan dan Rasa Terima Kasih Badris Salam untuk Aksa Mahmud

HM Aksa Mahmud sebelah kiri, H Badris Salam sebelah kanan

NETSULSEL | Makassar, ​Di bawah riuh rendah sorak penonton yang menyaksikan laga PSM Makassar melawan Arema Malang, Minggu (13/9), ada sebuah getar sunyi yang tak tertangkap layar kaca. Di ruangan Graha Pena Makassar itu, dua pasang mata bertaut—sebuah pertemuan yang bukan sekadar urusan menonton sepak bola, melainkan sebentuk nostalgia yang melintasi perjalanan puluhan tahun.

​Di sana, Haji Badris Salam duduk tak jauh dari Aksa Mahmud, sang pilar utama Bosowa Group. Di balik sosoknya yang kini menatap kepemimpinan DPD REI Sulawesi Selatan, ingatan Badris justru terbang jauh ke masa lalu, ke panggung-panggung proyek tempat jemarinya dahulu bersentuhan langsung dengan semen, keringat, dan batu bata.

​”Terima kasih, Pak Aksa,” tutur Badris halus, sebuah ucapan sederhana yang sarat akan makna rasa syukur yang mendalam.

​Bagi pria kelahiran Sinjai ini, nama Bosowa bukan sekadar deretan imperium bisnis atau anak perusahaan properti semata. Bosowa adalah kawah candradimuka. Jauh sebelum namanya diperhitungkan di industri properti, Badris adalah seorang mandor—sosok yang berdiri di garda depan proyek, menyapu peluh di bawah terik matahari Sulawesi.

​Di bawah naungan PT Tuju Wali-Wali, anak perusahaan Bosowa Corporindo yang tersohor membangun infrastruktur Indonesia Timur, Badris menatah jalan hidupnya. Dari ayunan sekop pada pembangunan Jalan Tol Tahap 1, deretan rumah sederhana untuk karyawan pabrik semen Bosowa, hingga penyelesaian lantai tiga Kantor Bosowa di Jalan Urip Sumoharjo; semuanya ia lakoni dengan ketelitian seorang pekerja keras.

​”Menjadi mandor adalah modal utama saya. Di sanalah dasar dari semua yang saya miliki hari ini dibangun,” kenang Badris dengan mata berbinar.

​Di antara debu proyek dan jam kerja yang panjang, Badris tidak hanya belajar merangkai besi atau menakar adukan semen. Dari tangan dingin kepemimpinan Aksa Mahmud dan ekosistem Bosowa, ia menyerap pelajaran termahal dalam hidup: profesionalisme dan harga mutlak dari sebuah kepercayaan. Kepercayaan itulah yang kelak menuntun langkahnya dari sekadar memimpin para tukang, hingga kini siap memimpin para pengembang di Sulsel.

​Hari itu, kehadiran Badris di samping Aksa Mahmud, yang juga berujung pada solidnya dukungan dari Bosowa Propertindo untuk langkahnya di REI Sulsel, terasa seperti lingkaran yang genap. Sebuah penegasan bahwa pohon yang tinggi tak pernah lupa pada tanah tempat akarnya pertama kali merambat.

​Bagi Badris Salam, dukungan Aksa Mahmud sore itu bukan sekadar restu politik organisasi, melainkan sebentuk kehangatan dari seorang mentor kepada muridnya yang pernah menempa diri di tengah kerasnya batu-batu jalanan.(ita)