Menghemat BBM atau Gaya Baru? Cerita Muh Amin Maddi, Kepala Desa di Sinjai yang Pilih Naik Kuda ke Kantor

Amin untuk meninggalkan sepeda motor dan beralih ke punggung kuda bukanlah sekadar aksi cari perhatian. Bagi Amin, langkah ini lahir dari pertimbangan riil atas melonjaknya pengeluaran operasional sehari-hari, terutama untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).

​NETSULSEL | Sinjai, Di tengah deru mesin kendaraan bermotor yang memadati jalanan perdesaan, suara derap langkah kaki kuda yang menapak mantap di atas aspal jalanan Desa Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai, membawa irama yang tak biasa. Di atas pelana itu, duduk Muh Amin Maddi, Kepala Desa Tellulimpoe, berpakaian dinas rapi, menyusuri jalan menuju kantor desa tempatnya mengabdi setiap hari.

​Pilihan Amin untuk meninggalkan sepeda motor dan beralih ke punggung kuda bukanlah sekadar aksi cari perhatian. Bagi Amin, langkah ini lahir dari pertimbangan riil atas melonjaknya pengeluaran operasional sehari-hari, terutama untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM).

​”Kalau kita hitung-hitung, pengeluaran untuk BBM kendaraan bermotor itu lumayan besar jika diakumulasikan setiap bulan. Mengendarai kuda bukan cuma soal efisiensi biaya yang ingin saya raih, tapi juga cara saya untuk kembali dekat dengan alam dan merasakan perjalanan dengan lebih tenang,” tutur Amin.

​Bagi sang kepala desa, menunggang kuda memberikan ruang untuk menyapa warga secara lebih hangat. Kecepatan kuda yang konstan dan santai memungkinkannya berhenti sejenak, melambaikan tangan, atau sekadar bertukar sapa dengan petani yang sedang menggarap sawah di pinggir jalan—sebuah interaksi manusiawi yang sering kali terlewat saat berkendara dengan kecepatan tinggi di atas sepeda motor.

​Namun, pilihan unik ini tak lantas diterima tanpa tanya. Di warung-warung kopi dan teras rumah warga, keputusan Amin menjadi bahan perbincangan yang hangat. Sebagian masyarakat menanggapi langkah sang kepala desa dengan nada ragu dan sedikit skeptis.

​Bukan tanpa alasan, warga menilai memelihara kuda bukanlah perkara murah. Dari sudut pandang sebagian warga, biaya pakan berkualitas, perawatan kesehatan, pembersihan kandang, hingga risiko penyakit pada hewan ternak justru bisa memakan anggaran yang tidak sedikit—bahkan bisa melebihi jatah pembelian BBM bulanan sebuah sepeda motor matic.

​”Niatnya memang bagus untuk hemat BBM, tapi kalau dihitung-hitung biaya pakan rumput, rumput potong, obat-obatan, dan perawatan kuda sehari-hari kan juga tidak kecil. Jangan-jangan malah lebih boros dari beli bensin,” cetus salah seorang warga desa sambil tersenyum tipis.

​Perbedaan sudut pandang ini justru memperkaya narasi keseharian di Desa Tellulimpoe. Bagi Amin, merawat kuda adalah bagian dari gaya hidup dan tanggung jawab pribadi yang memberikan kepuasan batin. Sementara bagi warga, keraguan itu muncul dari kalkulasi logis kehidupan sehari-hari yang pragmatis.

​Di luar pro dan kontra mengenai hitung-hitungan finansial tersebut, sosok Muh Amin Maddi yang menunggang kuda menuju kantor tetap menjadi pemandangan ikonik. Setiap derap langkah kudanya menyimbolkan usaha seorang pemimpin tingkat desa dalam mencari alternatif, menghidupkan kembali tradisi lokal, serta merajut kedekatan yang lebih personal dengan warga yang dipimpinnya.(ita)