Kualitas Udara Makassar Per 18 Oktober Hari ini Masih Berbahaya Meski Asap Bergeser, Ini Penjelasan BMKG

Udara kota Makassar per hari MInggu hari ini (18/10) terdeteksi masih tidak sehat. BMKG himbau tetap lakukan pencegahan. (foto dok)

NETSULSEL | Makassar,  Langit Kota Makassar dan sekitarnya kini tampak mulai terang setelah beberapa waktu lalu sempat terkepung kabut asap tebal. Kendati visual kepungan asap pekat secara kasat mata sudah mulai bergeser dan tidak lagi pekat menyelimuti perkotaan, ancaman tersembunyi masih mengintai. Berdasarkan data pemantauan lingkungan, konsentrasi polutan mikroskopis di udara masih berada di ambang batas yang membahayakan kesehatan masyarakat.

​Urai Penyebab: Dari Karhutla Regional hingga Pergerakan Angin
​Fenomena penurunan kualitas udara ini tidak terjadi begitu saja. Berdasarkan analisis dari Stasiun Klimatologi BMKG Wilayah IV Makassar, memburuknya kualitas udara dipicu oleh sebaran partikel polutan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

​Meskipun secara visual bentuk kabut asap (haze) mulai menipis dan bergeser, dinamika atmosfer serta hembusan angin dari arah timur hingga tenggara terus menerus membawa partikel sisa pembakaran—terutama partikulat halus berukuran sangat kecil atau PM_{2.5}—dari sejumlah titik karhutla di wilayah regional Sulawesi Selatan (seperti Kabupaten Bone, Soppeng, hingga Pangkep) serta wilayah timur Indonesia ke kawasan Makassar. Partikel berukuran mikro inilah yang lolos dari penglihatan kasat mata namun tetap bertahan di lapisan atmosfer rendah.

​Dampak Kesehatan dan Respon Lembaga Terkait
​Dinas Kesehatan serta para praktisi medis mengingatkan bahwa polutan mikroskopis yang melayang di udara bebas sangat berbahaya jika dihirup dalam jangka panjang. Praktisi kesehatan, dr. Sulfikar Andi Goesli, menegaskan bahwa paparan polutan sisa karhutla berisiko memicu iritasi saluran pernapasan atas (ISPA), batuk, iritasi mata, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit jantung.

​”Meskipun kabut tebalnya sudah tidak tampak pekat seperti hari-hari sebelumnya, partikel polutan halus masih melayang di udara dan berisiko masuk ke dalam saluran pernapasan. Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta penderita penyakit paru-paru harus ekstra waspada,” ujar dr. Sulfikar saat dikonfirmasi mengenai kondisi udara terkini.

Menanggapi situasi ini, sejumlah lembaga pemerintah bergerak cepat mengambil langkah mitigasi:
​BMKG Wilayah IV Makassar: Terus mengintensifkan pemantauan kualitas udara berbasis parameter PM_{2.5} dan mengimbau warga agar senantiasa memantau informasi cuaca resmi sebelum berkegiatan di luar ruangan.

​Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kota Makassar: Mengambil langkah proaktif dengan mendistribusikan masker gratis kepada para pelajar dan kelompok rentan. Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah tetap berjalan, namun pihak sekolah diinstruksikan untuk membatasi aktivitas luar ruangan (outdoor) anak didik guna menghindari paparan polusi secara langsung.

​Dinas Lingkungan Hidup (DLH): Berkoordinasi secara berkala untuk memonitor tingkat pencemaran udara perkotaan serta memastikan masyarakat mendapatkan peringatan dini secara akurat.

​Pemerintah mengimbau masyarakat Makassar agar tidak lengah meski cuaca tampak cerah. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta pengurangan durasi aktivitas fisik berat di ruang terbuka masih menjadi protokol kesehatan yang wajib diterapkan demi meminimalisir dampak polutan udara.(baba)