Daftar Korban Penyadapan Illegal Listyo dkk Meluber ke Mana-Mana, Tapi Kenapa Nama Wapres Gibran Malah “Ghosting” dari Target Sadap

Gibran Rakabuming Raka, (Wakil Presiden RI) lolos dari daftar korban penyadapan?

NETSULSEL | Jakarta, Ada pemandangan yang menggelitik sekaligus memancing tanda tanya besar di balik pengungkapan skandal spionase domestik yang dilakukan oleh lingkaran perwira tinggi kepolisian. Di saat Bareskrim Polri membeberkan daftar panjang korban penyadapan ilegal mulai dari Presiden, ketua umum partai politik, pengusaha, jurnalis, hingga LSM terselip satu absen nama yang paling mencolok: Wakil Presiden Republik Indonesia. Gibran Rakabuming Raka?

​Ya, ke mana perginya nomor telepon Mas Wapres? Mengapa para jenderal pintar yang merancang penyadapan canggih ini bisa-bisanya “lupa” memasukkan orang nomor dua di negeri ini ke dalam daftar target?

​Kabareskrim Polri, Jenderal Pol Asep Safrudin, dalam keterangannya mengungkapkan bahwa operasi ilegal berbasis Lawful Interception Management System (LIMS) yang dijalankan oleh eks Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (LSP) bersama dua perwira tinggi lainnya, ASN dan EH, sepanjang tahun 2025 hingga 2026, memang menyasar banyak pihak.

​”Nomor telepon yang disadap secara ilegal termasuk beberapa kalangan, presiden, pejabat negara, tokoh-tokoh politik, insan media, tokoh kemasyarakatan, LSM, dan para pengusaha,” ujar Asep di Bareskrim Polri, Selasa (3/11/2026) kemarin. Namun, tidak ada sepatah kata pun yang menyebut nama Wakil Presiden masuk dalam radar sadapan mereka.

​Analisis Gelak Tawar Politik: Kenapa Gibran “Aman” dari Sadapan Jenderal?
​Hilangnya nama Wakil Presiden dari daftar hitam para tersangka ini kontan memicu berbagai spekulasi kocak di kalangan pengamat warung kopi hingga warganet. Berikut adalah beberapa teori “ngawur tapi masuk akal” mengapa para jenderal ogah menyadap ponsel sang Wapres:

​Teori HP Terlalu Canggih atau Terlalu Bosan: Ada dugaan kuat bahwa para penyadap sempat mencoba meretas ponsel Wapres, namun isinya ternyata hanya didominasi oleh notifikasi gim online, video kuliner nusantara, atau draf cuitan media sosial, sehingga dianggap tidak ada “bahan gosip” politik yang menarik untuk dilaporkan ke atasan.

​Takut Salah Alamat Algoritma: Mengingat gaya komunikasi anak muda yang penuh singkatan gaul, para jenderal sepuh di kepolisian dikhawatirkan mengalami error dekoding saat mencoba menerjemahkan bahasa gaul di ponsel Wapres, sehingga operasi diurungkan demi kesehatan mental penyidik.

​Sengaja Dilewatkan karena “Sudah Terlalu Jelas”: Alasan lain yang tak kalah menggelikan adalah asumsi bahwa para pelaku mengira semua gerak-gerik Wapres sudah transparan tanpa perlu disadap atau mereka memang sengaja mengabaikannya karena takut ketahuan lebih cepat oleh paspampres.

​Fakta Hukum: Hapus Jejak dan Barang Bukti Berjibun
Terlepas dari misteri absennya sang Wapres dari daftar korban, operasi penyadapan ilegal yang dibongkar oleh Bareskrim ini tergolong serius dan dilakukan secara ugal-ugalan. Kabareskrim mengungkapkan bahwa perintah penyadapan tersebut dilakukan tanpa surat permohonan resmi maupun Laporan Polisi (LP), serta sama sekali tidak berkaitan dengan penegakan hukum yang sah.

​Panik karena aksinya mulai tercium, para tersangka bahkan sempat menghapus jejak log system pada Oktober 2026 untuk menghilangkan barang bukti digital. Sayangnya, kepanikan tersebut terlambat. Penyidik bergerak cepat dengan:

​Memeriksa 10 orang saksi dan 3 orang ahli.

​Menet status hukum salah satu jenderal bintang berinisial SU yang masih berstatus sebagai saksi.

​Menyita barang bukti fantastis berupa 11 unit handphone, 1 unit iPad, dan 4 buah flashdisk.

​Kini, ketiga tersangka List, ASN, dan EH resmi dijerat dengan sangkaan Pasal 258 ayat (1) dan ayat (2) KUH Pidana serta Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang ITE.

​Ketika ditanya lebih jauh soal siapa dalang utama di balik layar dan ke mana hasil sadapan tersebut disetorkan, pihak Bareskrim memilih gaya misterius ala detektif sinetron.

​”Ini adalah proses awal. Nggak mungkin kami dalam proses waktu 24 jam, dapat mengungkapkan semuanya. Nanti akan ada tempatnya,” pungkas Jenderal Asep sambil melempar senyum penuh teka-teki.

​Publik pun kini tinggal menunggu: apakah di episode penyidikan selanjutnya nama Wapres akhirnya muncul, ataukah ponsel beliau memang benar-benar kebal dari intaian para jenderal? (baba)