
NETSULSEL | Makassar, Menjawab tantangan global yang kian kompleks, Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mengukuhkan empat guru besar baru dalam Rapat Paripurna Senat Akademik Terbatas di Gedung Rektorat Unhas, Makassar, Jumat (17/7). Melalui pidato ilmiahnya, para profesor ini menawarkan peta jalan akademis yang progresif, mulai dari rekalibrasi politik luar negeri, transformasi birokrasi, penguatan kepercayaan publik, hingga penyelamatan warisan linguistik Nusantara. Momentum ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah manifestasi kontribusi nyata Unhas sebagai lumbung pemikiran strategis bagi kemajuan bangsa.
Dalam dinamika geopolitik, Prof. Drs. Darwis, M.A., Ph.D. menegaskan pentingnya Indonesia menggeser poros diplomasi dari Cycle Centris menuju Intermestic Foreign Policy demi menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Di sisi lain, efektivitas diplomasi luar negeri tersebut harus ditopang oleh fondasi domestik yang kokoh melalui reformasi kelembagaan. “Birokrasi masa kini tidak boleh lagi kaku. Kita membutuhkan restrukturisasi yang melahirkan organisasi publik adaptif melalui digitalisasi, desentralisasi, dan kolaborasi multipihak agar mampu menerapkan good public governance,” ujar Prof. Dr. Muhammad Yunus, M.A. saat ditemui usai pengukuhannya.
Penguatan internal tersebut sangat linier dengan pemikiran Prof. Dr. Mohamad Tahir Haning, M.Si. yang menyoroti urgensi public trust (kepercayaan publik) dalam administrasi pembangunan. Ia menggarisbawahi bahwa legitimasi pemerintah di era digital sangat bergantung pada transparansi dan partisipasi masyarakat dalam setiap penentuan kebijakan. Diwawancarai secara terpisah, Prof. Tahir menyatakan, “Kepercayaan masyarakat adalah mata uang utama dalam tata kelola pemerintahan modern; tanpa adanya aspek itu, kebijakan publik seindah apa pun tidak akan berjalan efektif di lapangan.”
Tak kalah krusial, dimensi identitas nasional diulas secara mendalam oleh Prof. Drs. Kaharuddin, M.Hum., Ph.D. lewat temuan ilmiah mengenai korespondensi fonem antara bahasa Bugis dan Makassar. Riset fonologinya membuktikan adanya hukum bunyi yang teratur, seperti perubahan fonem /ɔ/ menjadi /a/ pada kata bermakna sama, yang mempertegas kedekatan historis kedua budaya terkemuka di Sulawesi Selatan ini. “Pelestarian bahasa daerah adalah benteng terakhir identitas kita di tengah gempuran globalisasi, dan pendekatan sains modern adalah cara terbaik mendokumentasikannya,” ungkap Prof. Kaharuddin optimistis.
Sinergi pemikiran dari keempat profesor baru ini membuktikan bahwa akademisi tidak boleh tinggal diam di menara gading. Dari meja diplomasi internasional hingga akar budaya lokal, Unhas berhasil menyajikan solusi holistik yang memadukan stabilitas makro dan kelestarian mikro. Rektorat Unhas berharap pengukuhan ini menjadi pemantik akselerasi riset terapan yang mampu langsung diimplementasikan oleh para pembuat kebijakan demi masa depan Indonesia yang lebih inklusif dan berdaya saing. (rie)
Tag SEO:
Universitas Hasanuddin, Guru Besar Unhas, Pidato Pengukuhan Profesor, Tata Kelola Pemerintahan, Diplomasi Indo-Pasifik, Reformasi Birokrasi Indonesia, Kepercayaan Publik, Pelestarian Bahasa Daerah, Fonologi Bugis Makassar, Kebijakan Publik, Unhas Makassa









