Investigasi Kematian Tragis Dokter Muda Unhas di Kalibata City: Kemenkes Singkap Fakta di Balik Tragedi Lantai 18

Dolter di Depok alumni Unhas Makassar yang tewas setelah diduga terjatuh dari lantai 18

NETSULSEL | Jakarta, Tragedi memilukan yang merenggut nyawa seorang dokter muda lulusan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, dr. Siti Zahra Maghfira (SZM), perlahan mulai menemui titik terang. Insiden maut jatuhnya sang dokter peserta internship dari lantai 18 Apartemen Kalibata City pada Minggu (26/7/2026) tak hanya memicu penyelidikan kepolisian, tetapi juga investigasi mendalam dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terkait dugaan eksploitasi di lingkungan kerjanya di RS Sentra Medika Depok.

​Merespons berbagai spekulasi publik dan potensi kelalaian instansi, Inspektorat Jenderal Kemenkes langsung menurunkan tim investigasi khusus. Inspektur Investigasi Kemenkes, Hendra Teja, memaparkan bahwa pihaknya telah membedah lima aspek krusial yang mengitari kehidupan profesional korban. Pembedahan fakta ini bertujuan untuk membuktikan apakah ada tekanan sistemik dari rumah sakit yang memicu aksi nekat berujung maut tersebut.

​Dalam rilis resminya di Jakarta Selatan, Rabu (29/7/2026), Hendra membeberkan bahwa empat aspek pertama—meliputi jam kerja, beban tugas, hak istirahat, dan lingkungan kerja—dinyatakan bersih dari pelanggaran. “Kami pastikan jam kerja saudari SZM sesuai ketentuan yang berlaku. Bagi dokter peserta internship, batas maksimal adalah 40 jam seminggu. Tidak ada eksploitasi kelebihan jam kerja maupun beban tugas yang di luar kapasitas wajar,” tegas Hendra.

​Lebih lanjut, hasil investigasi mengungkap bahwa pihak rumah sakit sangat kooperatif terhadap kondisi fisik korban. Saat korban sakit, izin diberikan tanpa ada tuntutan pergantian jam kerja. Lingkungan RS Sentra Medika Depok pun dinilai suportif ketika korban mengeluh tidak sanggup bekerja. Namun, tabir misteri di balik kematian ini terkuak pada temuan aspek kelima. Investigasi Kemenkes menemukan adanya rekam jejak masalah kesehatan jiwa yang tengah mendera sang dokter. “Secara keseluruhan sistem kerja tak ada penyimpangan atau anomali. Namun, kondisi kesehatan jiwa yang dialami korban menjadi temuan krusial yang harus menjadi perhatian kita bersama,” ungkap Hendra menekan inti permasalahan.

​Fakta investigasi dari Kemenkes ini menguatkan temuan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) oleh kepolisian yang mengarah pada murni tindakan bunuh diri. Kapolsek Pancoran, Kompol Mansur, mengungkap detik-detik menegangkan sebelum kematian korban. Berdasarkan penyelidikan, korban diketahui tinggal berdua bersama sang ibu di unit apartemen tersebut. Sesaat sebelum kejadian, korban menolak ajakan ibunya untuk pergi ke mal. “Korban memilih tetap berada di dalam kamar saat ibunya berangkat,” terang Kompol Mansur, membeberkan temuan awal dari pihak kepolisian.

​Nahas, sesaat setelah ibunya pergi, korban diketahui mengunci rapat pintu dari dalam. Tak lama setelahnya, insiden fatal itu terjadi. Tubuh korban dilaporkan sempat tersangkut di bagian balkon sebelum akhirnya terhempas keras ke lantai dasar apartemen. Tim kepolisian langsung melakukan olah TKP dan mengevakuasi jenazah ke RS Polri Kramat Jati untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kasus ini kini menjadi alarm keras, menyisakan duka mendalam sekaligus membuka mata publik akan pentingnya pelindungan kesehatan mental di balik jas putih para pahlawan medis.(ist)