Kilau Pertalite-Solar Botolan Plastik di Tengah Derita Antrean Panjang, Sebuah Peluang Cuan

foto kamera ponsel buram, dipertajam dengan AI

NETSULSEL | Makassar, ​Sengatan matahari siang tak menyurutkan senyum Basri di pinggir jalan lintas kota dikawasan jalan Batua Raya. Di atas meja kayu lapuk milik laki-laki berusia 40 tahun itu, berjejer belasan botol plastik bekas air mineral berisi cairan warna hijau kebiruan dan warna kuni bening/keemasan. Di saat ratusan kendaraan mengular hingga berjam-jam di seluruh SPBU akibat krisis bahan bakar minyak (BBM), lapak ringkas milik Basri justru panen raya.

​Tanpa papan nama, tanpa jaminan standar keamanan, bisnis BBM eceran botolan ini menjamur cepat di sepanjang trotoar sepanjang pinggir jalan kawasan Batua Raya. Basri menjual pertalite dan solar tersebut dengan harga melonjak tajam: Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter. Angka yang terbilang melambung tinggi jika dibandingkan dengan harga resmi di pompa pengisian. Namun, rasa iba atau simpati atas nestapa warga yang kesulitan mendapatkan BBM seolah lenyap terbilang keuntungan.

“Barupi saya jual pak, baru 3 hari. Kemarin-kemarin ndak ji. Saya juga kasihan lihat orang mengantri lama, kalau disini belinya ndak perlu antri. Hanya perlu dipahami kalau harganya mungkin beda. Disitu tongmi kasiyang bisa untung” kata Basri

Tak hanya Basri, sebuah toko yang jual kebutuhan bahan bangunan juga disulap menjadi lapak penjualan bbm jenis solar dan pertalite. BBM yang disimpan dalam botol air mineral itu dijajakan diatas cat-cata kaleng dietalase tokonya. Harganya dipatok Rp.20.000 rupiah perliter. Pemilik toko ini mengakui, masih bisa naik Rp.23.000 rupiah jika SPBU memang betul-betul kehabisan stok.

“Pembeli datang sendiri pak, lihat pertalitenya terpajang lansung beli. Ndak ada yang menawar.” ungkap pemilik toko tersebut yang hanya ingin namanya diinisialkan DR.

​Bagi para penjual eceran ini, krisis pasokan BBM bukan musibah, melainkan celah menggiurkan. Mereka memanfaatkan rasa putus asa warga yang tak memiliki pilihan lain selain merogoh kocek lebih dalam demi mengisi tangki kendaraan yang sekarat.

​Di sisi lain, keresahan warga kian membuncah. Banyak pengendara motor maupun mobil yang terpaksa memangkas anggaran belanja harian hanya demi membeli beberapa liter bensin botolan. Kebutuhan mobilitas kerja dan usaha yang mendesak menyandera masyarakat untuk menerima harga yang mencekik tersebut.

​Ketidakpedulian ini melengkapi pemandangan ironis di jalanan. Di satu titik, warga lunglai berdiri berjam-jam dalam antrean SPBU yang tak kunjung bergerak, sementara beberapa meter di depannya, botol-botol plastik bekas berisi bensin dijual bebas tanpa empati dengan harga setinggi langit.(ita)