NETSULSEL | Makassar, Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas pahit yang kini mengepung laut Indonesia. Pergeseran musim yang ekstrem, cuaca tak menentu, hingga kacaunya distribusi ikan mulai mengancam urat nadi perekonomian masyarakat pesisir. Menjawab tantangan kritis ini, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin (Unhas) bergerak nyata membawa angin segar berupa strategi adaptasi berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan demi menyelamatkan masa depan sektor perikanan.
Aksi nyata tersebut diwujudkan melalui kolaborasi apik antara FIKP Unhas, Bank Indonesia, dan Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari dalam menggelar pelatihan manajemen risiko di Hotel Novotel Makassar. Sebanyak 22 nelayan dan pembudidaya tangguh dari berbagai pelosok Sulawesi Selatan berkumpul untuk membedah strategi bertahan di tengah ketidakpastian alam. Kegiatan ini menjadi momentum krusial untuk mengubah cara pandang tradisional menjadi pengelolaan perikanan yang modern dan adaptif.
Hadir sebagai motor penggerak, dosen Program Studi Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP) FIKP Unhas, Muhammad Kurnia, menegaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat pesisir adalah kunci utama. Menurutnya, pengelolaan laut tidak lagi bisa menggunakan cara-cara lama yang seragam, melainkan harus berbasis pada kondisi ekologi dan sosial ekonomi spesifik di tiap wilayah. “Kemampuan beradaptasi adalah penentu agar laut kita tetap produktif dan berkelanjutan,” ujarnya optimis.
Lebih dari sekadar bertahan hidup, strategi yang diusung ini membawa misi mulia yang jauh lebih besar. Melalui identifikasi risiko sejak dini dan pendekatan berbasis ekosistem, para nelayan diajarkan untuk menjaga keseimbangan antara mengeruk rezeki dan merawat kelestarian alam. Langkah sistematis ini dirancang tidak hanya untuk mengamankan isi jaring nelayan, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendongkrak kesejahteraan keluarga mereka.
Harapan besar pun membubung tinggi dari para inisiator gerakan ini. Direktur Yayasan Mattirotasi Mitra Lestari, Muh. Ikhsan Idrus, mengungkapkan bahwa ruang belajar interaktif ini berhasil melahirkan solusi-solusi aplikatif langsung dari curhatan dan studi kasus para nelayan di lapangan. Edukasi ini diharapkan mampu menjadi senjata baru bagi nelayan untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga mereka di tengah hantaman badai perubahan lingkungan.
Langkah maju ini menjadi bukti nyata komitmen Unhas dalam membumikan ilmu akademik langsung ke jantung masyarakat. Melalui sinergi kuat antara perguruan tinggi, lembaga masyarakat, dan sektor keuangan, kisah dari Makassar ini mengirimkan pesan inspiratif ke seluruh negeri: bahwa dengan ilmu pengetahuan dan kolaborasi, keterbatasan alam bukan lagi akhir dari segalanya, melainkan awal dari kebangkitan nelayan Indonesia yang lebih tangguh dan mandiri. (ist)
















