Menembus Jepang, Dua Mahasiswa Keperawatan Unhas Serap Inovasi Layanan Kesehatan Berbasis Bukti di Kanazawa

mahasiswa Program Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas), Dedi Mizwar dan Rezky Salsabila, melangkah hingga ke Negeri Sakura. Selama dua pekan (12–27 Juli 2026), keduanya berkesempatan mempelajari secara langsung penerapan Evidence-Based Practice (praktik berbasis bukti) melalui ajang internasional Global Basic and Clinical Practice Exchange Program 2026 di Kanazawa University, Jepang

NETSULSEL | Makassar, Semangat memperkuat kualitas layanan kesehatan global membawa dua mahasiswa Program Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas), Dedi Mizwar dan Rezky Salsabila, melangkah hingga ke Negeri Sakura. Selama dua pekan (12–27 Juli 2026), keduanya berkesempatan mempelajari secara langsung penerapan Evidence-Based Practice (praktik berbasis bukti) melalui ajang internasional Global Basic and Clinical Practice Exchange Program 2026 di Kanazawa University, Jepang. Tak berjalan sendiri, kolaborasi tahunan ini kian berwarna dengan keterlibatan mahasiswa dari Taipei Medical University, Taiwan, yang secara aktif saling bertukar gagasan mengenai inovasi praktik klinis dan integrasi riset dalam ekosistem keperawatan modern.

​Menjelajahi berbagai fasilitas kesehatan ternama seperti Kanazawa University Hospital, Saiseikai Hospital, hingga fasilitas komunitas Share Kanazawa, Dedi dan Rezky mendalami secara langsung perpaduan teknologi canggih serta filosofi pelayanan di sana. Kunjungan melintasi berbagai ranah perawatan mulai dari gerontik, pediatrik, hingga layanan kemoterapi rawat jalan—memberikan sudut pandang baru tentang bagaimana patient-centered care (pelayanan berpusat pada pasien) diimplementasikan secara nyata. Di luar sisi akademik, keramahan dan ketulusan pelayanan khas Jepang yang dikenal sebagai filosofi Omotenashi, serta budaya kedisiplinan tinggi, menjadi pelajaran berharga yang melengkapi pengayaan kompetensi klinis mereka di lapangan.

​Keikutsertaan mahasiswa dalam program lintas negara ini mendapat apresiasi penuh dari pimpinan fakultas. Dekan Fakultas Keperawatan Unhas, Prof. Dr. Elly Lilianty Sjattar, S.Kp., M.Kes., menegaskan bahwa kesempatan belajar di ekosistem internasional sangat krusial untuk mencetak lulusan yang adaptif dan berdaya saing tinggi. “Pengalaman ini tidak hanya memperkuat kompetensi klinis, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kolaborasi lintas profesi, serta sensitivitas terhadap kebutuhan pasien sebagai pusat pelayanan. Nilai-nilai inilah yang terus kami dorong dalam pengembangan pendidikan keperawatan di Fakultas Keperawatan Unhas,” tegas Prof. Elly.

​Pengalaman berharga tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi peserta yang merasakan langsung ritme kerja dan sistem pendidikan keperawatan di Jepang. Dedi Mizwar, salah satu mahasiswa peserta program, mengungkapkan betapa terintegrasinya sistem riset dengan tindakan klinis harian para tenaga kesehatan di Kanazawa. “Di sana, setiap tindakan perawat benar-benar didasari oleh bukti ilmiah yang kuat dan teknologi yang ramah pasien. Budaya Omotenashi dan ketelitian mereka dalam menjaga patient safety memberi inspirasi besar bagi kami untuk membawa serta menerapkan ilmu dan nilai-nilai positif ini saat kembali melayani masyarakat di Indonesia,” ujar Dedi.

​Langkah strategis Unhas melalui kemitraan internasional ini sekaligus mempertegas komitmen kampus dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)—khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Memasuki akhir program, Prof. Elly berharap seluruh pembelajaran yang diserap mahasiswa dapat mentransformasi mutu layanan kesehatan di dalam negeri. “Kami berharap pengalaman ini dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan keperawatan, penelitian, dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia,” tutup Prof. Elly optimis. (qas)