
NETSULSEL | Papua, Ada semangat gotong royong yang kembali berdenyut hangat di ujung timur Indonesia. Langkah progresif ditorehkan oleh warga Kampung Weri dan Kampung Saharey, Distrik Fakfak Timur, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Untuk kali pertama dalam sejarah lokal mereka, para petani di dua kampung tersebut berhasil memanen, mengumpulkan, serta memasarkan hasil bumi secara kolektif melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam).
Langkah monumental ini merupakan buah manis dari kegiatan pilot action yang bergulir pada 7–10 Oktober 2026. Di balik pergerakan ekonomi kerakyatan tersebut, hadir tangan-tangan terampil dari dunia akademik: Tim 16 Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang dipimpin langsung oleh Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos., M.Sc. Kehadiran sivitas akademika Unhas ini membuktikan bahwa kampus tidak hanya menjadi menara gading pencetak teori, melainkan garda terdepan yang turun langsung menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Gotong Royong di Kebun hingga Praktik Transparansi Keuangan
Rangkaian aksi inspiratif ini diawali dengan keringat kebersamaan di kebun warga. Pengurus BUMKam Parimimi (Saharey), BUMKam Tunas Harapan Weri, para petani setempat, pemuda kampung, berkerjasama erat dengan Tim 16 UNHAS memetik hasil bumi dengan penuh antusias. Dari kebun-kebun rakyat tersebut, terkumpul komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi: 25 kilogram pala, 30 kilogram rica (cabai), hingga dua tandan pisang segar.
Tidak berhenti pada proses panen, seluruh komoditas kemudian dipusatkan di BUMKam Weri. Di sinilah ruang edukasi kampus berpadu dengan realitas sosial; para pengurus BUMKam diajak langsung mempraktikkan pencatatan asal usul barang, jenis, volume, hingga pembukuan keuangan dan inventarisasi yang sebelumnya telah disimulasikan bersama tim pendamping.
”Dengan pengumpulan kolektif, satu kali pengangkutan bisa melayani banyak petani. Ongkos transportasi yang selama ini dikeluhkan warga bisa ditanggung bersama,” jelas Vidiah, mewakili Tim Pendamping Ekspedisi Patriot UNHAS.
Setelah pencatatan selesai, rombongan bergerak membawa hasil bumi menuju Pasar Seberang di Kota Fakfak. Komoditas pala disalurkan kepada pembeli langganan warga, sementara rica dan pisang dijajakan langsung di pasar terbuka.
Menyingkap Rantai Pasok: Pelajaran Berharga dari Simulasi Pasar
Simulasi uji pasar yang dilakukan tim membuka mata terhadap dinamika kompleks rantai pasok lokal. Selama ini, petani kerap berada di posisi rentan sebagai price taker akibat skala penjualan yang kecil, minimnya referensi perbandingan harga, dan ketiadaan standar mutu yang baku.
Temuan lapangan juga menunjukkan bahwa petani kerap kembali kepada tengkulak bukan semata-mata karena keterikatan relasi, melainkan karena kebutuhan mendesak akan likuiditas tunai cepat dan kepastian pembeli—faktor krusial yang saat ini masih coba dijembatani BUMKam seiring keterbatasan modal kerja.
“Masalah utama bukan semata-mata keberadaan tengkulak, melainkan belum hadirnya lembaga ekonomi desa yang mampu menyediakan kepastian pembeli dan likuiditas tunai secara adil,” ungkap Vidiah menguraikan temuan krusial tersebut.
Sinergi Nyata Bersama Pemerintah Daerah
Menyadari pentingnya keberlanjutan program, Tim 16 TEP UNHAS bersama pengurus BUMKam langsung bergerak melakukan audiensi strategis dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Fakfak.
Langkah taktis ini mendapat sambutan hangat dari Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Fakfak, Awal Woretma, S.Pt., M.Si. Pihak Disperindag berkomitmen penuh mendorong pala sebagai komoditas ikonik daerah, sekaligus mengimbau masyarakat menjaga konsistensi pasokan guna membuka jalan menuju pembeli dalam skala i. (ist)
















