Ubah Limbah Jadi Berkah: Jejak Inspiratif Mahasiswa KKN UNHAS Menjaga Baju Bodoa

Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin dalam menggerakkan kepedulian lingkungan di Kelurahan Baju Bodoa, Kabupaten Maros. Di tengah ancaman tumpukan sampah plastik yang mengintai pemukiman, para mahasiswa hadir membawa percik semangat baru melalui program edukasi berkelanjutan. Selama dua hari, tepatnya pada 2–3 Agustus 2026, mereka menyusuri wilayah RW 001, RW 003, hingga RW 002 untuk mengajak masyarakat merajut kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.

NETSULSEL | Makassar, “Bumi menyediakan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap manusia, tetapi tidak untuk kesetakusan mereka.” Pesan mendalam ini menjadi pijakan awal bagi Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin dalam menggerakkan kepedulian lingkungan di Kelurahan Baju Bodoa, Kabupaten Maros. Di tengah ancaman tumpukan sampah plastik yang mengintai pemukiman, para mahasiswa hadir membawa percik semangat baru melalui program edukasi berkelanjutan. Selama dua hari, tepatnya pada 2–3 Agustus 2026, mereka menyusuri wilayah RW 001, RW 003, hingga RW 002 untuk mengajak masyarakat merajut kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.

​Perubahan besar selalu bermula dari langkah-langkah kecil yang konsisten di dalam rumah tangga. Melalui sosialisasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), warga diajak untuk memangkas penggunaan plastik sekali pakai dengan membiasakan diri membawa tas belanja mandiri dan botol minum (tumbler). Botol, galon, hingga kaleng bekas yang tadinya dianggap sampah tak berguna kini disulap menjadi pot tanaman cantik dan wadah serbaguna. Selain itu, pemilahan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk serta penyaluran sampah non-organik ke pengepul menjadi strategi ampuh untuk mengubah pandangan bahwa limbah bukanlah masalah, melainkan potensi.

​”Sesuatu yang dianggap tak berguna sering kali hanya belum menemukan tangan yang tepat untuk mengolahnya.” Semangat kreatif ini dibuktikan secara nyata melalui pelatihan pembuatan ecobrick, sebuah inovasi praktis untuk “mengurung” sampah plastik agar tidak mencemari alam. Dengan penuh ketelitian, warga diajarkan memotong kemasan plastik, memasukkannya ke dalam botol bekas, dan memadatkannya menggunakan tongkat kayu. Antusiasme warga semakin memuncak ketika jajaran botol padat tersebut dirangkai menjadi sebuah kursi kokoh yang terbukti mampu menopang bobot orang dewasa.

​Persoalan saluran air yang tersumbat dan pemukiman yang kotor kerap terjadi bukan karena kesengajaan, melainkan karena minimnya pemahaman warga tentang cara mengolah limbah. Pemateri Edukasi KKN UNHAS, Ilham, menegaskan bahwa sampah yang biasanya dibakar atau dibuang sembarangan sejatinya memiliki nilai guna yang tinggi jika disentuh dengan kreativitas. Melalui aksi nyata ini, mahasiswa tidak hanya memberikan teori, tetapi juga membocorkan rahasia bagaimana limbah rumah tangga bisa bertransformasi menjadi barang yang bernilai estetis dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

​Benih kebaikan yang telah ditanam oleh mahasiswa KKN UNHAS ini diharapkan tidak runtuh seiring selesainya masa pengabdian mereka. Inovasi ecobrick dan budaya 3R kini telah diserahkan kepada warga Kelurahan Baju Bodoa untuk dirawat menjadi sebuah gaya hidup baru. Sebab, melestarikan alam bukanlah sebuah aksi sesaat, melainkan komitmen panjang yang dilakukan secara bersama-sama demi mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan hijau bagi generasi masa depan.(ist)