
NETSULSEL | Gowa, Pelaksanaan upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-81 di Kabupaten Gowa menyisakan dinamika menarik yang menjadi perbincangan hangat publik. Di balik sukses dan hikmatnya pengibaran bendera oleh 70 anggota Paskibraka, pemandangan tak biasa terlihat di tribun utama (VVIP): Bupati Gowa Husniah Talenrang dan Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin tampak duduk terpisah jauh.
Jika pada momen-momen besar tahun sebelumnya kursi Bupati dan Wakil Bupati selalu berdampingan mengapit Forkopimda, kali ini pemandangan berubah total. Kursi Bupati Gowa ditempatkan berdampingan dengan Ketua DPRD Gowa, sementara kursi Wakil Bupati berada di blok sebelah, bersanding dengan Kapolresta dan Dandim 1409 Gowa. Di antara kedua blok kursi pemimpin daerah tersebut, terdapat meja yang diatasnya dihiasi vas bunga anggrek putih sebagai pemisah. Tak hanya itu, deretan kursi tamu VVIP di panggung utama hingga di sayap kanan-kiri panggung juga tampak banyak yang kosong hingga upacara usai.
Menanggapi fenomena tersebut, pengamat politik Universtas Bosowa Makassar, DR Arief Wicaksono S.Ip, M.A, menilai ada pesan politik simbolis yang sangat kuat di balik penataan posisi duduk tersebut.
Menurutnya , jika merujuk pada Pasal 10 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, mengenai Tata Tempat (Presence), hierarki posisi duduk di tingkat kabupaten menempatkan Bupati (nomor 1), Wakil Bupati (nomor 2), Ketua DPRD (nomor 3), baru kemudian unsur Forkopimda.
“Secara teknis baku, jika jumlah kursi genap, posisi Bupati dan Wakil Bupati seharusnya berada di tengah secara berdampingan dengan aturan bahwa sebelah kanan memiliki derajat kehormatan lebih tinggi” Ucap Mantan Dekan Fisip Unibos ini.
Meski tim protokoler daerah memiliki diskresi teknis untuk mengatur tata letak panggung demi estetika maupun fleksibilitas acara, keputusan penataan tersebut tidak bisa dilepaskan dari arahan pimpinan.
Menurut Arief, dalam konteks komunikasi politik, penataan ruang dan fisik panggung tidak pernah bersifat netral. Jarak fisik yang membentang di panggung VVIP tersebut secara tersirat mengirimkan sinyal ke publik mengenai adanya jarak politik, ketidakharmonisan, hingga isu keretakan hubungan kekuasaan (pecah kongsi) di tingkat elit pemerintahan Kabupaten Gowa.
Aief menilial, Terpisahnya tempat duduk itu merupakan titik balik dari berbagai kagaduhan politik yang terjadi dikabupaten Gowa beberapa pekan ini, yang terakhir adalah upaya pemakzulan.
“Tidak ada sebuah peristiwa yang berdiri sendiri, semuanya ada asbabun nuzulnya. Bupati yang merasakan tensi tekanan yang sangat berat dan tentu dia pasti sudah memetakan aktor-aktor yang bermain-main bakal memperebutkan posisinya” Tegas Airief.
Terlepas pesan politik di panggung VVIP, prosesi pengibaran bendera berjalan lancar. Kedatangan dan kepulangan Bupati Gowa Husniah Talenrang pun tampil berbeda dengan dikawal pasukan berkuda berbusana adat Tubarani.
Usai upacara, Husniah Talenrang mengapresiasi tinggi kerja keras dan kekompakan para anggota Paskibraka yang telah berlatih sungguh-sungguh selama sebulan. Dalam keterangannya, ia juga menyelipkan pesan persatuan kepada seluruh masyarakat Gowa.
”Saya selalu berpesan kepada masyarakat untuk selalu menjaga momen kemerdekaan ini dengan menjalin silaturahmi satu dengan lainnya. Hindari segala sesuatu yang menyebabkan kita terpecah belah, karena ini adalah momen bersama dalam kemerdekaan,” imbau Husniah.(ita)
















