Siap-siap! Anak SMA Berduit Bakal Dicoret dari Program Makan Bergizi Gratis, Ini Kriteria Terbaru BGN

Siswa didalam kelas tengah bersiap menikmati menu MBG

NETSULSEL | ​Jakarta, Badan Gizi Nasional (BGN) tengah melakukan langkah besar untuk merombak daftar penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah efisiensi ini diambil agar anggaran negara benar-benar menyasar mereka yang membutuhkan, alih-alih bocor ke kelompok masyarakat yang sudah mapan.

​Sebagai langkah awal, BGN mengonfirmasi telah mencoret 76 sekolah di Pulau Jawa dari daftar penerima manfaat. Sekolah-sekolah tersebut dinilai sudah mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan gizi siswanya secara swadaya.

​”Mereka secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan gizi mereka, tidak membutuhkan intervensi dari pemerintah,” ujar Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, dalam keterangannya kepada media.

​Agustina menjelaskan bahwa keputusan tegas ini diambil berdasarkan hasil pemetaan dan pendataan berkala yang dilakukan oleh pemerintah.

​”Sampai dengan hari ini, kami sudah melakukan pendataan dan sudah teridentifikasi sementara ini ada 76 sekolah di Pulau Jawa (yang dicoret),” tambahnya.

Siapa Saja yang Masih Berhak Menerima Makan Bergizi Gratis?
BGN menegaskan fokus program MBG ke depan adalah anak-anak dan kelompok rentan yang memang sangat membutuhkan intervensi gizi.

Berikut adalah 5 kategori utama yang tetap menjadi prioritas penerima manfaat:

1.​ Ibu Hamil Tetap menjadi prioritas utama guna mencegah risiko stunting (tengkes) sejak bayi masih di dalam kandungan.

​2. Ibu Menyusui Intervensi diberikan untuk menjaga kualitas Air Susu Ibu (ASI) serta memastikan pemenuhan gizi bayi di masa awal kehidupannya.

​3. Balita (Bayi di Bawah Lima Tahun) Fokus pemenuhan gizi di periode emas tumbuh kembang anak agar fisik dan otaknya berkembang optimal.

​4. Siswa di Daerah 3T Pelajar di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pangan sehat dan bergizi.

​5. Siswa dari Keluarga Kurang Mampu Anak-anak dari keluarga miskin yang kesulitan menyajikan makanan sehat sehari-hari di meja makan mereka.

Anak SMA dari Keluarga Mampu dan Sekolah Mandiri Bakal ‘Gigit Jari’
​Selain menyisir sekolah-sekolah mandiri, pemerintah juga berencana memangkas penerima dari kalangan siswa SMA kelas atas atau dari keluarga berada. ​Ilustrasi gampangnya, menurut BGN, siswa SMA dengan uang saku melimpah dinilai tidak lagi memerlukan subsidi makanan dari pemerintah.

​”Misalnya lah contoh gampang, untuk SMA ya mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA-SMA yang uang saku anak-anaknya sudah Rp100.000 atau Rp200.000 sehari,” jelas Agustina.

​Langkah pencoretan kelompok mampu ini dinilai sangat strategis. Pakar kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono, menilai pembenahan ini sangat tepat. Menurut analisisnya, jika anak-anak dari keluarga kaya dikeluarkan dari daftar, pemerintah bisa menghemat kuota hingga 8 juta penerima manfaat untuk dialihkan kepada yang jauh lebih membutuhkan.

Pendataan Terus Berjalan: Daftar Sekolah Dicoret Bakal Bertambah?
​BGN memastikan bahwa angka 76 sekolah yang dicoret saat ini barulah tahap awal. Tim di lapangan masih terus melakukan penyisiran ke berbagai wilayah di Indonesia.

​”Daftar ini masih akan terus bertambah karena memang kami melihat beberapa indikator, seperti tingkat kerentanan gizi, kondisi sosial ekonomi, hingga akses wilayah terhadap pangan sehat,” pungkas Agustina.

​Dengan pengetatan kriteria ini, pemerintah berharap anggaran jumbo untuk Makan Bergizi Gratis tidak lagi salah sasaran dan benar-benar mampu mencetak generasi emas Indonesia yang sehat dan cerdas.