NETSULSEL | Makassar, Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan mengambil langkah proaktif dalam menekan angka kriminalitas jalanan dan aksi keributan yang meresahkan warga Kota Makassar. Di bawah kepemimpinan Kapolda Sulsel Irjen Pol. Awal Chairuddin, kepolisian menyiapkan skema pembinaan terpadu bagi para pemuda dan remaja yang kerap terlibat bentrokan antarkelompok.
Program pembinaan ini dirancang secara komprehensif dengan mengombinasikan pendidikan mental, kedisiplinan, serta penguatan nilai moral dan keagamaan di Sekolah Polisi Negara (SPN) dengan mengkarantina mereka selama 7 hari. Langkah ini diambil agar penanganan aksi premanisme maupun tawuran tidak berhenti pada ranah penegakan hukum semata, melainkan memberikan ruang rehabilitasi sosial yang konstruktif bagi masa depan para remaja.
Kapolda Sulsel Irjen Pol. Awal Chairuddin mengungkapkan bahwa pihak kepolisian telah mengamankan belasan remaja yang diduga terlibat dalam aksi keributan di sejumlah titik di Makassar. Para remaja inilah yang pertama akan menjalani proses pendataan dan pemeriksaan sebelum dimasukkan ke dalam program pendidikan dan pelatihan (diklat) singkat di SPN.
”Kita sudah ada belasan orang yang diamankan. Mereka akan mengikuti diklat singkat di SPN dulu,” ujar Irjen Pol. Awal Chairuddin dalam keterangannya di Mapolda Sulsel.
Selama menjalani program pembinaan yang direncanakan berlangsung sekitar lima hingga tujuh hari tersebut, para peserta akan mendapatkan penggemblengan mental, kedisiplinan, serta pembinaan rohani yang disesuaikan dengan keyakinan masing-masing. Selain itu, Polda Sulsel juga secara aktif memanggil orang tua dan pihak keluarga agar proses pembentukan karakter positif ini mendapat pengawasan serta dukungan penuh dari lingkungan terdekat.
Tidak hanya berfokus pada aspek mental dan kedisiplinan, kepolisian turut menjajaki sinergi dengan para pemangku kepentingan dan dunia usaha untuk membuka peluang kegiatan produktif bagi para pemuda tersebut. Harapannya, para remaja yang sebelumnya terlibat konflik dapat bertransformasi menjadi agen perubahan (agents of change) yang positif di lingkungan tempat tinggalnya serta tidak mudah terprovokasi oleh isu atau ajakan negatif di media sosial.
Polda Sulsel juga mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para orang tua dan tokoh pemuda, untuk senantiasa meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak-anak mereka. Warga diminta agar segera melaporkan potensi gangguan keamanan, gelagat mencurigakan, atau rencana tawuran melalui layanan Call Center Polri 110 yang siaga selama 24 jam. (hendra)
















