
NETSULSEL | Jakarta, Di hadapan panji-panji korps Adhyaksa, Selasa (11/8/2026), sebuah amanah besar resmi diserahkan. Jaksa Agung Republik Indonesia, ST Burhanuddin, melantik Muhammad Syarifuddin, S.H., M.H., sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulawesi Selatan yang baru. Momen ini sekaligus menandai promosi jabatan bagi mantan Kajati Sulsel, Dr. Sila Haholongan Pulungan, yang kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Sesjamdatun).
Namun di balik seragam dinas dan tongkat komando, pelantikan ini menyimpan kisah humanis yang mendalam. Bagi Muhammad Syarifuddin, tugas baru ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa—ini adalah panggilan pulang ke tanah kelahiran.
Lahir di Ujung Pandang (Makassar) pada 4 Agustus 1968, Jaksa Utama Madya ini melangkah kembali ke kampung halamannya setelah menempuh perjalanan panjang mengabdi di berbagai penjuru Nusantara. Dari memimpin Kejaksaan Negeri di Luwuk, Belawan, hingga Cirebon; dipercaya menjadi Kajati Papua Barat; hingga mengendalikan operasi tindak pidana khusus di Kejagung, Syarifuddin membawa pulang pengalaman berharga dan kepakaran hukum pidananya demi membela hak-hak masyarakat Sulawesi Selatan.
Dalam amanatnya yang menyentuh sanubari, Jaksa Agung ST Burhanuddin mengingatkan bahwa kekuasaan dan jabatan pada hakikatnya adalah alat untuk menghadirkan keadilan, bukan untuk disombongkan.
”Jabatan bukan sekadar kedudukan, kehormatan, maupun kekuasaan, melainkan sebuah amanah dan wujud kepercayaan yang harus dijaga serta dipertanggungjawabkan dengan integritas, profesionalitas, dan loyalitas,” tegas Burhanuddin.
Jaksa Agung menginstruksikan agar penegakan hukum—terutama dalam pemberantasan korupsi—dilakukan dengan cara yang terukur, tenang, dan tanpa kegaduhan, namun tetap tajam serta berani membela hak rakyat kecil. Ia menekankan pentingnya transparansi publik dan pola hidup sederhana bagi para jaksa beserta keluarga sebagai fondasi kepercayaan masyarakat.
Sebuah pesan puitis dan penuh makna mendalam dititipkan Jaksa Agung sebagai pengingat bagi seluruh pejabat yang dilantik tentang arti sejati dari sebuah pengabdian:
”Ibarat matahari, jabatan pasti akan terbenam, tetapi cahaya pengabdian akan senantiasa menyala. Semoga setiap langkah yang kita tempuh bernilai ibadah, setiap amanah yang kita tunaikan membawa berkah, dan setiap kebaikan yang kita tanam menjadi jejak kemuliaan hingga akhir hayat.”
Kini, rakyat Sulawesi Selatan menaruh asa pada sosok putra daerahnya. Dengan rekam jejak yang matang di bidang tindak pidana khusus serta pemahaman mendalam akan karakter tanah kelahirannya, kembalinya Muhammad Syarifuddin diharapkan mampu menegakkan supremasi hukum yang berkeadilan, transparan, dan berhati nurani di bumi Sulawesi Selatan. (duppa)




