Terkepung Asap di Palembang, Politisi PAN Jabal Nur Minta Presiden Prabowo Turun Tangan Selamatkan Ekonomi

Jabal Nur, Politisi Pan sekaligus pengusaha asal Sulsel menyoroti tajam asap tebal yang menyelimuti kota Palembang. Jabal melihat kabut asap ini membawa dampak ekonomi yang buruk bagi kota ini.

NETSULSEL | Palembang, Berada di tengah himpitan asap tebal yang menyelimuti Kota Palembang sejak kemarin tidak menyurutkan langkah Jabal Nur untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. Politisi muda Partai Amanat Nasional (PAN) asal Sulawesi Selatan yang juga dikenal sebagai pengusaha ini menyoroti langsung dampak buruk kabut asap yang tak hanya mengganggu aktivitas harian warga, tetapi juga mengancam nadi perekonomian kawasan.

​Ditemui di Palembang saat menjalankan agenda bisnisnya, Jabal Nur mengekspresikan keprihatinannya atas kualitas udara yang kian memburuk. Menurutnya, persoalan bencana asap tahunan ini membutuhkan intervensi kepemimpinan yang tegas dan terukur dari pemerintah pusat.

​Harapan pada Presiden Prabowo dan Langkah Strategis

​Jabal Nur menaruh harapan besar kepada Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil langkah-langkah strategis dan solutif demi menghentikan ancaman bencana ekologis ini secara permanen.

​“Kondisi asap tebal di Palembang ini bukan sekadar persoalan jarak pandang atau pernapasan, tetapi menyangkut kelangsungan hidup masyarakat dan iklim usaha. Kami sangat berharap Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus dan menginstruksikan langkah-langkah penanganan strategis dari hulu ke hilir, mulai dari penegakan hukum pembakar lahan hingga penanganan darurat udara,” ujar Jabal Nur.

Menurutnya, karakter kepemimpinan Presiden Prabowo yang cepat, taktis, dan berorientasi pada ketahanan nasional sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan benang kusut karhutla yang terus berulang.

​Analisis Pengusaha: Dampak Efek Domino pada Ekonomi

​Sebagai seorang pengusaha, Jabal Nur memberikan sudut pandang tajam terkait dampak domino kabut asap terhadap perekonomian lokal maupun nasional. Ia menilai, bencana asap secara langsung menekan produktivitas dan memicu kerugian ekonomi yang tak sedikit:

  1. ​Lumpuhnya Sektor Logistik dan Perdagangan: Kabut asap tebal mengganggu jadwal penerbangan, transportasi darat, serta jalur distribusi barang di Sumatra Selatan. Keterlambatan logistik berpotensi menaikkan biaya operasional bisnis dan memicu kenaikan harga barang kebutuhan di pasar.
  2. ​Penurunan Produktivitas Tenaga Kerja: Gangguan kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menurunkan kapasitas kerja masyarakat dan pelaku usaha, yang pada akhirnya menurunkan output perekonomian daerah.
  3. ​Ancaman bagi Sektor UMKM dan Pariwisata: Pelaku usaha mikro, pedagang kecil, hingga industri kuliner dan perhotelan mengalami penurunan omzet secara drastis akibat berkurangnya mobilitas masyarakat dan keengganan wisatawan berkunjung.
​Komitmen Melayani dan Mendorong Solusi Permanen

​Jabal Nur menegaskan bahwa keluhan yang ditangkapnya dari warga Palembang harus menjadi alarm bagi semua pihak. Keselamatan warga dan keberlangsungan ekonomi daerah tidak boleh dikorbankan setiap tahun oleh masalah yang sama.

​“Sebagai pelaku usaha, saya merasakan betul betapa macetnya aktivitas ekonomi saat udara tidak sehat. Jika kita ingin ekonomi tumbuh pesat, kepastian lingkungan hidup yang sehat dan aman adalah syarat mutlak. Kita butuh solusi permanen agar roda ekonomi Palembang dan kawasan Sumatra tetap berputar cepat,” pungkas Jabal. (sri)