Menembus Kegelapan, Meraih Impian. Nurfadila, Sarjana Tunanetra yang Membuktikan Keterbatasan Bukan Penghalang

sosok Nurfadila, S.Pd., melangkah anggun menuju mimbar. Lulusan dari Program Studi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh ini hadir bukan sekadar merayakan gelar akademik, melainkan berdiri sebagai monumen hidup dari sebuah perjuangan tanpa batas—seorang wisudawan disabilitas netra yang berhasil menaklukkan dunia perkuliahan.

NETSULSEL | ​Makassar, Riuh tepuk tangan dan suasana haru membuncah di tengah prosesi Wisuda Ke-88 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar pada Sabtu (20/6/2026). Di antara 1.411 lulusan yang dikukuhkan, sosok Nurfadila, S.Pd., melangkah anggun menuju mimbar. Lulusan dari Program Studi Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh ini hadir bukan sekadar merayakan gelar akademik, melainkan berdiri sebagai monumen hidup dari sebuah perjuangan tanpa batas seorang wisudawan disabilitas netra yang berhasil menaklukkan dunia perkuliahan.

​Di hadapan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Rektor Unismuh Dr. Ir. Abd Rakhim Nanda, serta ribuan pasang mata yang hadir, Nurfadila menyuarakan pesan pemantik jiwa. Perjalanannya menembus labirin akademik tanpa penglihatan bukanlah hal yang mudah. Namun, ia memilih bergeming dan melawan keterbatasan hanya dengan mengandalkan keberanian, kemandirian, keteguhan mental, serta sokongan doa tak putus dari kedua orang tuanya.

​”Saya selama ini berprinsip bahwa saya berkuliah di Unismuh ini hanya membawa modal keberanian, kemandirian, dan mental. Terutama selama ini dukungan dari keluarga, kedua orang tua. Keterbatasan bukanlah suatu penghalang untuk kita,” pukas Nurfadila penuh ketegasan di atas mimbar wisuda.

​Lulus dan meraih gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) nyatanya hanyalah babak pertama dari marathon perjuangan Nurfadila. Di hadapannya kini, membentang tantangan masa depan yang tidak kalah terjal: persaingan dunia profesional. Dunia kerja yang kerap kali belum sepenuhnya ramah dan inklusif menuntutnya siap menghadapi pilihan-pilihan sulit. Apakah ia harus berkompromi dengan realitas pasar kerja yang minim akomodasi, atau terus meniti jalan sebagai pendidik dan pembela hak-hak inklusivitas meski jalan itu penuh ketidakpastian?

​Menyadari bahwa ilmu adalah senjata utamanya untuk bertarung di dunia profesional, Nurfadila memilih untuk tidak berhenti. Ia menargetkan Beasiswa LPDP demi melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Secara khusus, ia mengetuk hati pemerintah dan publik agar tidak menutup mata terhadap potensi para penyandang disabilitas. Ia mengapresiasi Unit Layanan Disabilitas (ULD) Unismuh, seraya berharap infrastruktur dan ruang gerak bagi mahasiswa berkebutuhan khusus di perguruan tinggi terus dibenahi secara masif.

​”Ketika teman-teman wisudawan punya tetangga atau teman (penyandang disabilitas) yang ingin melanjutkan perkuliahan, janganlah ragu. Karena saya sudah ada bukti di sini yang berdiri di tengah-tengah teman-teman wisudawan,” lanjutnya membakar semangat.

Gelar sarjana yang diraih Nurfadila bukan sekadar selembar ijazah, melainkan simbol pembebasan dari stigma. Perjuangannya menjadi pengingat keras bahwa dunia profesional dan pendidikan tinggi harus terus membuka pintu selebar-lebarnya. Bagi Nurfadila, tongkat yang menuntun langkahnya tidak pernah membatasi imajinasinya untuk menggenggam dunia—ia siap melangkah lebih jauh, menembus sekat-sekat ketidakmungkinan, dan menginspirasi generasi yang akan datang. (qas)