
NETSULSEL | Gowa, Kepungan senjata otomatis, brondongan peluru, dan ancaman kematian yang nyata kini membayangi detik-detik mencekam yang dialami Ashari Samadikun (33). Kapten kapal tanker MT Honour 25 asal Gowa, Sulawesi Selatan, tersebut hingga kini masih berada dalam cengkeraman kelompok perompak Somalia di perairan tandus Samudra Hindia.
Malam pembajakan itu menyisakan ketakutan mendalam. Melalui rekaman suara dan panggilan terakhirnya kepada keluarga serta rekan alumni Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar, Ashari sempat menggambarkan kepanikan fatal saat tiga perahu cepat bersenjata mengepung kapalnya dari jarak dekat.
”Pas jam dua, ada tiga boat. Di kanan dua, di kiri satu. Saya lihat dari teropong, ada senjatanya. Mati kita!” ucap Ashari dengan nada panik sebelum rentetan tembakan menembus dinding dan kamar kemudinya.
Meski sempat mengunci diri di dalam kamar, barisan bajak laut bersenjata berat berhasil mendobrak masuk. Demi menyelamatkan nyawa seluruh anak buah kapal (ABK) yang sebagian besar merupakan WNI, Ashari mengambil keputusan terberat, memerintahkan seluruh kru menyerah dan mengangkat tangan. Sejak saat itu, MT Honour 25 dipaksa keluar jalur pelayaran dan terisolasi total.
Buntu dan Terisolasi, Nyawa Terancam Sengketa Burokrasi
Tragedi ini kian mengkhawatirkan karena proses pembebasan dan negosiasi kini berada dalam titik buntu yang kian membahayakan jiwa para sandera. Saling Lempar Tanggung Jawab: Pemilik kapal menuntut perusahaan penyewa asal Dubai untuk bertindak, sementara pihak penyewa merasa itu bukan kewajiban utamanya.
Tuntutan Mutlak Perompak, Bajak laut menolak berunding dengan pihak ketiga maupun pemerintah dan secara tegas hanya menginginkan komunikasi langsung dengan pemilik resmi kapal. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sulsel, Jayadi Nas, membenarkan kerumitan yang menahan proses pembebasan sang kapten.
”Itu kapal direntalkan perusahaan yang bergerak di pengiriman minyak dari Dubai ke beberapa daerah. Pemilik kapal minta penyewa yang negosiasi, tapi penyewa bilang itu tanggung jawab pemilik. Ini yang susah, belum ada titik temunya. Kedua, perompak tidak mau berunding dengan orang tertentu, mau sama yang punya kapal. Ketiga, ini situasi yang tidak kondusif,” tegas Jayadi Nas saat memberikan keterangan resmi.
Pemerintah Indonesia melalui KBRI Nairobi dan Kemenlu menegaskan terus memantau posisi Ashari dan berkoordinasi dengan Konsul Kehormatan RI di Somalia. Namun, selama polemik tebusan ini membentur tembok tebal, waktu terus berjalan melawan keselamatan sang kapten yang kini mempertaruhkan nyawanya di laut lepas.(ita)












