
NETSULSEL | Gowa,Di tengah pusaran dinamika politik yang memanas terkait isu korupsi dan bergulirnya Pansus Hak Angket DPRD, roda pemerintahan Kabupaten Gowa justru menunjukkan gestur kepemimpinan yang kontras: tetap tenang, fokus, dan progresif. Bukannya terdistraksi oleh riuk di gedung dewan, Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, memilih membungkam tekanan lewat aksi nyata mendorong transformasi sektor agraris.
Komitmen tersebut terlihat jelas saat ia hadir langsung melantik dan memberi pembekalan dalam acara Wisuda Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, Senin (11/8/2026). Di hadapan 268 lulusan muda, Bupati menegaskan bahwa pengabdian kepada rakyat dan masa depan daerah tidak boleh terhenti oleh dinamika politik apa pun.
”Saya menyampaikan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati. Jadilah generasi yang bukan hanya sekadar lulus, tetapi mampu mengabdi dengan memberikan ilmunya dan turun langsung ke masyarakat. Tenaga dan pemikiran mereka sangat dibutuhkan untuk mengembangkan pertanian, termasuk melalui pemanfaatan teknologi,” tegasnya.
Sitti Husniah menekankan bahwa tantangan sektor pertanian saat ini menuntut lompatan pemikiran. Pertanian modern tak lagi sebatas benih dan pupuk, melainkan meliput digitalisasi, mekanisasi, kecerdasan buatan, hingga rantai pasok dan hilirisasi. Ia mendorong para pemuda untuk hadir sebagai penggerak utama menuju swasembada pangan yang berkelanjutan.
”Kita membutuhkan anak muda yang mampu melihat data sebelum mengambil keputusan, menggunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi, serta mengubah hasil pertanian menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” tambahnya, sembari menegaskan kesiapan Pemkab Gowa membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi para inovator muda.
Senada dengan hal tersebut, Plt Direktur Polbangtan Gowa, Sartika Juwita, turut berpesan agar 180 lulusan sarjana terapan dan 88 lulusan ahli madya yang baru dikukuhkan ini mampu menjawab tantangan zaman dan menjadi pemimpin sektor pertanian di masa depan.
Sikap Bupati Gowa yang terus bergerak memacu sektor-sektor vital daerah di tengah tekanan politik menjadi sinyal kuat: kepemimpinan sejati diuji bukan saat kondisi tenang, melainkan saat ia mampu menjaga fokus pelayanan publik dan masa depan masyarakatnya di tengah terpaan badai.(baba)















