Hasil Sidak Polresta Gowa Menguak! Pangkas Pasokan BBM Hanya 50 Persen dari Permintaan SPBU, Pemicu Antrean Ular

enam SPBU yang disidak dikawasan Kecamatan Somba Opu mengalami pemangkasan pasokan BBM yang signifikan, bahkan ada sampai 50 persen dari kuota yang mereka ajukan, yang berakibat stok tak pernah mencukupi untuk kebutuhan warga yang mengantri.

NETSULSEL | Gowa, Temuan di lapangan oleh Unit Tipidter Satreskrim Polresta Gowa mengungkap tabir di balik mengularnya antrean kendaraan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kecamatan Somba Opu. Berdasarkan inspeksi mendadak (sidak) yang digelar sepanjang hari Jumat (11/9/2026) kemarin, polisi menemukan fakta mendasar: enam SPBU yang disidak dikawasan Kecamatan Somba Opu mengalami pemangkasan pasokan BBM yang signifikan, bahkan ada sampai 50 persen dari kuota yang mereka ajukan, yang berakibat stok tak pernah mencukupi untuk kebutuhan warga yang mengantri.

​Kepolisian menyoroti ketimpangan drastis antara alokasi yang dikirim dengan permintaan riil pengelola SPBU. Kondisi ini diperparah oleh melonjaknya daya beli masyarakat serta isu panic buying.

​Kasubnit 2 Unit Tipidter Satreskrim Polresta Gowa, Ipda Muhammad Nur, menegaskan bahwa akar masalah mengularnya antrean kendaraan teracak dari jatah BBM yang diterima SPBU jauh di bawah permintaan resmi.

​”Hasil pemantauan kami menunjukkan pasokan BBM yang diterima sejumlah SPBU dipangkas dari jumlah yang diajukan. Ada tiga SPBU yang mengajukan permintaan 16 kiloliter (KL), namun pasokan yang terealisasi hanya 8 KL,” ungkap Ipda Muhammad Nur.

​Pemangkasan kuota hingga 50 persen tersebut secara otomatis membuat stok di tingkat penyalur habis lebih cepat dari biasanya. Pengawasan ketat pun kini disiagakan polisi untuk memantau rantai distribusi sekaligus mengantisipasi potensi penimbunan maupun aksi pelansiran BBM oleh oknum tak bertanggung jawab.

​Fakta penyusutan jatah ini diamini oleh pihak pengelola lapangan. Irwan, Pengawas SPBU 74.901.05 di Jalan Agus Salim, Kelurahan Bonto-Bontoa, membeberkan bahwa krisis pasokan ini sudah menggerogoti operasional mereka selama kurun waktu dua hingga tiga minggu terakhir.

​”Kami pesan 16 KL, tapi yang dikirim cuma 8 KL. Pengurangan ini bikin Pertalite dan Pertamax cepat sekali habis, sementara jadwal pengiriman pasokan berikutnya sering tidak pasti dan baru masuk dini hari,” tutur Hasbi.

​Dampak dari pengiriman BBM yang tak sesuai kapasitas permintaan ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Sunarti, warga lokal yang terpaksa berburu bensin hingga ke tingkat pengecer, menceritakan kenyataan pahit akibat dampak pengeringan stok di SPBU.

​”Dari penjual eceran sampai SPBU, stok Pertalite dan Pertamax kosong semua. Motor saya mogok kehabisan bensin, sampai-sampai anak saya terpaksa tidak masuk sekolah hari ini,” keluhnya.

​Polresta Gowa memastikan akan terus mengawal penanganan krisis ini dan menindak tegas setiap kendaraan teridentifikasi yang nekat melakukan praktik pelansiran BBM di wilayah hukum Kabupaten Gowa. (syam)